Poin Penting
- Investor saham AS di Pluang melonjak 6 kali lipat dalam tiga tahun, sementara investor pemula naik 63 kali lipat
- AUM saham dan ETF AS tumbuh 19 kali lipat, menandakan investasi global makin mainstream
- Lebih dari 70 persen investor masih memegang saham global setelah setahun, menunjukkan tren investasi jangka panjang.
Jakarta – Investor Indonesia mulai mengubah cara membangun kekayaan. Diversifikasi portofolio kini tidak lagi berhenti pada aset domestik, tetapi semakin bergeser ke pasar global, terutama saham dan Exchange Traded Fund (ETF) Amerika Serikat (AS).
Fenomena tersebut tercermin dari lonjakan jumlah investor saham AS di Pluang. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah investor saham AS yang aktif bertransaksi setiap bulan meningkat enam kali lipat. Lebih mencolok, jumlah investor pemula di kelas aset tersebut melonjak hingga 63 kali lipat.
Pertumbuhan itu terjadi di tengah penguatan pasar saham AS dan semakin besarnya minat investor Indonesia terhadap perusahaan global seperti Microsoft, Apple, Google, dan Tesla.
Menariknya, investasi saham AS kini tidak lagi identik dengan investor dari kalangan tertentu maupun mereka yang tinggal di kota metropolitan.
Baca juga: OJK: Transaksi Kripto Tembus Rp150,60 Triliun, Konsumen Naik Jadi 22,69 Juta
Data Pluang menunjukkan, sekitar 38 persen investor saham AS di platform tersebut berasal dari kota sekunder dan tersier.
Pluang kini melayani investor di lebih dari 300 kota dan kabupaten di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investasi aset global mulai bergeser dari sekadar pilihan alternatif menjadi bagian dari strategi investasi masyarakat yang lebih luas.
AUM Saham AS Melonjak 19 Kali Lipat
Besarnya minat investor juga tercermin dari pertumbuhan dana kelolaan. Total Assets Under Management (AUM) saham dan ETF AS di Pluang tumbuh 19 kali lipat dalam tiga tahun terakhir.
Pada kuartal I 2026, sekitar satu dari lima investor baru di Pluang bahkan memulai perjalanan investasinya melalui kelas aset saham dan ETF AS.
Bukan hanya jumlah investor baru yang meningkat. Komitmen investor untuk mempertahankan kepemilikan saham global juga cukup kuat. Lebih dari 70% investor yang pertama kali membeli saham global setahun lalu masih memegang saham tersebut hingga saat ini.
Angka tersebut menjadi indikasi bahwa investasi saham global mulai diposisikan sebagai instrumen diversifikasi jangka panjang, bukan sekadar kendaraan spekulasi untuk mengejar keuntungan dalam waktu singkat.
“Investor Indonesia kini jauh lebih mahir dalam menemukan peluang pertumbuhan baru. Dengan pola pikir yang lebih global, mereka mengejar peluang kelas dunia untuk melengkapi—bukan menggantikan—portofolio lokal mereka,” ujar Andreas Agung Hendrawan, Director of Marketing & Commercial Pluang dikutip 10 Agustus 2026.
Menurut Andreas, perkembangan perusahaan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi salah satu faktor yang membuat akses ke saham global semakin penting bagi investor Indonesia.
“Sebagai contoh, perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan Kecerdasan Buatan (AI) kini menguasai sekitar 45 persen dari kapitalisasi pasar S&P 500 (menurut data Goldman Sachs, 2026)—menegaskan mengapa akses yang teregulasi ke perusahaan-perusahaan tersebut sangat penting bagi investor Indonesia yang berdiversifikasi secara global agar mereka tidak tertinggal dari potensi pertumbuhan ini,” tambahnya.
Saat ini, Pluang menyediakan akses ke lebih dari 650 saham dan ETF AS. Investor juga dapat membeli saham secara pecahan atau fractional ownership, sehingga akses terhadap saham perusahaan global tidak harus dilakukan dengan membeli satu unit saham secara penuh.
Selain saham dan ETF, Pluang menyediakan instrumen seperti Options dan Leverage bagi investor berpengalaman dengan mempertimbangkan manajemen risiko dan keterbukaan informasi.
Kepemilikan Saham Jadi Sorotan
Di tengah pertumbuhan investasi global, isu kepemilikan aset dan perlindungan investor menjadi salah satu aspek yang semakin penting. Pluang menyatakan telah sepenuhnya mentransisikan produk saham AS dan ETF ke skema Penyaluran Amanat Nasabah ke Bursa Luar Negeri (PALN) sejak 2025.
Skema PALN merupakan jalur resmi yang digunakan untuk memfasilitasi investasi saham asing bagi investor ritel domestik dengan kepemilikan langsung atas saham dasar atau underlying shares.
Dalam skema tersebut, Pluang menggandeng PT PG Berjangka yang merupakan pialang berjangka berlisensi BAPPEBTI sekaligus Perantara Pedagang Efek untuk Derivatif Keuangan yang berizin OJK.
Transaksi investor tercatat di Bursa Berjangka Jakarta (JFX) dan dijamin oleh Kliring Berjangka Indonesia (KBI). Sementara eksekusi transaksi di pasar saham AS dilakukan melalui Alpaca Securities LLC, pialang anggota FINRA yang diawasi US SEC.
Baca juga: Investor RI Makin Minati Tokenisasi Aset Berbasis Saham AS, Ini Buktinya
Dengan mekanisme tersebut, investor memperoleh kepemilikan pecahan atas saham dasar sekaligus hak atas dividen secara proporsional.
Sejak produk saham global diluncurkan, Pluang menyebut investor telah menerima total pembayaran dividen senilai puluhan miliar rupiah dari kepemilikan saham mereka.
“Seiring dengan semakin globalnya pandangan masyarakat Indonesia, tugas kami bukan hanya sekadar menyediakan akses, tetapi juga terus meningkatkan standar kualitas, transparansi, dan perlindungan investor di baliknya. Keputusan untuk bertransisi secara penuh ke skema PALN mencerminkan komitmen tersebut,” tutup Andreas. (*)


