Poin Penting
- Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 7.050–7.150 pada 30 April 2026, dengan potensi menguji MA5 di 7.156, namun rawan profit taking jelang long weekend
- IHSG sebelumnya ditutup menguat ke 7.101,23 (+0,41 persen) didorong rebound teknikal dari area oversold dan bertahan di atas level psikologis 7.000
- Sentimen pasar dipengaruhi proyeksi kenaikan harga energi global, data inflasi AS (PCE), serta rilis ekonomi dari AS, Tiongkok, dan Eropa, termasuk kebijakan suku bunga ECB dan BoE.
Jakarta – Phintraco Sekuritas memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (30/4) sebagai hari terakhir bursa di April dan menjelang long weekend Peringatan Hari Buruh, secara teknikal berpotensi bergerak pada rentang 7.050-7.150.
“Diperkirakan IHSG berpeluang menguji level MA5 di sekitar level 7.156, namun perlu diwaspadai potensi profit taking menjelang long weekend. Diperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 7.050-7.150,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 24 April 2026.
Diketaui, IHSG ditutup menguat pada level 7.101,23 atau naik 0,41 persen pada perdagangan Rabu (29/4). Penguatan IHSG antara lain dipicu oleh teknikal rebound, karena sudah berada di area oversold dan IHSG masih bertahan di atas level 7.000.
Baca juga: Begini Pergerakan Harga Saham BMRI Usai Umumkan Tebar Dividen Rp44,47 Triliun
Sentimen IHSG
Sentimen pasar saham hari ini akan dipengaruhi, oleh Bank Dunia yang memproyeksikan harga energi akan meningkat 24 persen pada tahun ini ke level tertinggi sejak dimulainya perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022.
Sedangkan harga komoditas secara keseluruhan diperkirakan akan meningkat 16 persen pada tahun ini, didorong oleh kenaikan harga energi dan pupuk, serta kenaikan beberapa harga komoditas logam.
Sementara dari Amerika Serikat (AS), akan dirilis indeks PCE prices bulan Maret 2026 yang diperkirakan naik di level 3,3 persen dari 2,8 persen di Februari 2026 (30/4).
Meski demikian, data pertumbuhan ekonomi AS di kuartal I 2026 diperkirakan tumbuh 1,5 persen dari 0,5 persen secara kuartalan. Lalu, dari Tiongkok, investor akan mencermati data manufaktur dan non manufaktur bulan April (30/4).
Baca juga: Kantongi Restu RUPST, Bank Mandiri Siap Eksekusi Buyback Saham Rp1,16 Triliun
Adapun dari Euro Area, akan dirilis data PDB kuartal I 2026, inflasi, tingkat pengangguran, serta hasil pertemuan ECB (30/4). Menurut konsensus, diperkirakan ECB masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 2,15 persen.
Demikian juga dengan perkiraan hasil kebijakan BoE yang berpotensi masih mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen (29/4). (*)
Editor: Galih Pratama




