Poin Penting
- Ekonom menilai industri perbankan Indonesia tetap tumbuh di tengah suku bunga tinggi dan ketidakpastian global.
- Pertumbuhan kredit dinilai masih kuat, didorong program belanja pemerintah dan kualitas aset yang tetap sehat.
- Persaingan antarbank yang semakin ketat menjadi tantangan menjaga margin dan pertumbuhan bisnis.
Jakarta – Indonesia Head of Research DBS Group, William Simadiputra mengapresiasi pelaku industri perbankan yang dinilai mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Di tengah era suku bunga tinggi dan konflik geopolitik global, William menyebut industri perbankan nasional masih mampu mencatat pertumbuhan yang baik. Dari sisi kredit, pertumbuhan dinilai terbantu oleh pembiayaan program-program pemerintah.
“Kita lihat pertumbuhan kredit itu masih cukup tinggi, di mana ini berkaitan dari program-program spending pemerintah, yang mana juga memberikan “boost” untuk dari GDP growth kita di kuartal-I ini,” bebernya dalam online media briefing DBS Group Research, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca juga: Perbanas Buka Suara soal Kredit Program Pemerintah, Bank Tak Bisa Asal Salur Dana
Lebih lanjut, William mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum melihat adanya tekanan signifikan terhadap kualitas aset perbankan. Temuan ekonom DBS menunjukkan rata-rata kualitas aset perbankan nasional masih berada dalam kondisi sehat.
Meski demikian, menurutnya tantangan utama industri perbankan saat ini adalah menjaga pertumbuhan kredit sambil mempertahankan margin yang sehat di tengah persaingan yang semakin ketat.
“Yang menjadi tantangan selanjutnya untuk industri perbankan Indonesia adalah bagaimana menumbuhkan kredit dengan, tetap mempertahankan margin yang sehat, di mana saat ini mungkin kompetisi antar bank di Indonesia lebih ketat,” ujarnya.
William menilai kondisi tersebut terjadi karena banyak bank mengincar segmen pasar yang serupa, khususnya pasar dengan kualitas kredit yang lebih baik.
“Dengan kondisi target market, mungkin yang mau mencari higher quality market ini juga membuat perbankan Indonesia mencari segmen pasar yang relatif mirip sama satu sama lain,” paparnya.
Baca juga: Ekonom DBS Sudah Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh Sampai 5,61 Persen, Ini Alasannya
Meski menghadapi berbagai tantangan, William tetap optimistis industri perbankan nasional memiliki ketahanan yang kuat untuk menghadapi sisa 2026.
Kinerja Perbankan Masih Solid
Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan nasional masih mencatat pertumbuhan positif pada kuartal I-2026.
Kredit tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp8.659 triliun. Sementara rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 2,14 persen, dengan Loan at Risk (LAR) berada di level 8,94 persen.
Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 13,55 persen (yoy) menjadi Rp10.231 triliun. Likuiditas perbankan tetap terjaga, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 84,64 persen.
Dari sisi profitabilitas, Net Interest Margin (NIM) tercatat sebesar 4,38 persen dan Return on Asset (ROA) sebesar 2,47 persen. Sementara itu, permodalan perbankan tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,09 persen. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


