Poin Penting
- Ekonom Permata Bank menyebut pelemahan rupiah bukan hanya dipicu faktor global, tetapi juga tekanan domestik.
- Permintaan dolar AS meningkat akibat pembayaran dividen emiten dan kebutuhan jemaah haji.
- Penguatan transaksi Local Currency Transaction (LCT) dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Jakarta – Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga karena adanya permasalahan di domestik.
Menurut Josua, pada kuartal II 2026 terjadi peningkatan permintaan dolar AS di domestik akibat pembayaran dividen emiten kepada pemegang saham hingga kebutuhan valuta asing untuk Jemaah haji.
Berdasarkan catatannya, Josua melihat pelemahan rupiah terhadap dolar AS sepanjang tahun ini hampir mencapai 5 persen secara year to date (ytd).
Baca juga: Purbaya Tak Revisi Asumsi Makro APBN 2026 Meski Rupiah Tertekan
Namun, rupiah tidak hanya melemah terhadap mata uang negeri Paman Sam ini, melainkan juga terhadap mayoritas mata uang Asia seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, dolar Hong Kong, dan yuan China. Sementara itu, rupee India justru mengalami penguatan.
Rupiah Melemah terhadap Mata Uang Asia
Josua menegaskan pelemahan rupiah tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kondisi global.
“Kita melemah terhadap semua mata uang Asia yang paling dalam kita melemah terhadap ringgit Malaysia lalu yang kedua terhadap Singapura dolar yang berikutnya terhadap Hong Kong baru terhadap yuan. Jadi jangan terus menyalahkan global,” ujar Josua dalam kegiatan Pelatihan Wartawan Bank Indonesia (BI), Jumat, 22 Mei 2026.
Ia menilai penguatan implementasi Local Currency Transaction (LCT) perlu terus didorong, termasuk memperluas kerja sama dengan bank sentral negara mitra.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus meningkatkan efisiensi perdagangan antarnegara.
“Karena kita sudah berkoar-koar di dalam bank sentral yang lain mungkin berkurang, berkoar-koar ke stakeholder-nya mereka,” ungkapnya.
Baca juga: OJK Cermati DPK Valas di Tengah Menguatnya Dolar AS
Transaksi LCT Tumbuh Pesat
Berdasarkan data BI hingga April 2026, rata-rata bulanan pelaku LCT mencapai 5.265 pelaku. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan 497 pelaku pada 2021 dan 1.741 pelaku pada 2022.
Tren kenaikan ini berlanjut pada 2023 menjadi 2.602 pelaku, kemudian melonjak menjadi 5.020 pelaku pada 2024. Bahkan pada 2025, rata-rata bulanan pelaku LCT sempat mencapai 9.720 pelaku.
Sementara itu, nilai transaksi LCT hingga April 2026 tercatat sebesar USD22,61 miliar atau melonjak 309 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD7,33 miliar.
Kenaikan volume transaksi LCT itu mencerminkan semakin luasnya diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional.
Baca juga: Purbaya Pangkas Anggaran MBG 2026 dari Rp335 Triliun jadi Rp268 Triliun, Ini Alasannya
Adapun negara mitra utama Indonesia dalam implementasi LCT saat ini meliputi Tiongkok, Jepang, dan Malaysia. Kontribusi transaksi terbesar berasal dari Tiongkok sebesar 89 persen, disusul Jepang 6 persen, dan Malaysia 3 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra


