Poin Penting
- Jahja Setiaatmadja menilai networking penting dalam karier bankir karena pemimpin tidak bisa bekerja sendiri.
- Jahja menekankan pentingnya mendengar dan menerima masukan dari tim untuk mengambil keputusan yang tepat.
- Networking turut mendukung keberhasilan inovasi ATM BCA melalui komunikasi, lobi, dan persuasi.
Jakarta – Bankir senior sekaligus Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, menekankan pentingnya networking dalam membangun karier sebagai bankir.
Menurutnya, tidak ada sosok yang mampu menjadi “superhero” di industri perbankan karena setiap pemimpin tetap membutuhkan kerja sama dan masukan dari banyak pihak.
Jahja yang bergabung dengan BCA pada 1990 mengaku saat awal berkarier masih minim pengetahuan mengenai bisnis dan regulasi perbankan. Sebelumnya, ia berkarier di Indomobil sebagai direktur.
Memulai karier di BCA sebagai wakil kepala divisi selama lima tahun, Jahja banyak belajar langsung dari lapangan. Pengalaman tersebut sekaligus memperluas pemahamannya mengenai bisnis perbankan.
“Meskipun saya selama di BCA tidak pernah jadi kepala cabang ataupun kepala wilayah, tetapi saya banyak turun waktu itu ya. Awal karir saya untuk belajar dari situ (lapangan), belajar dan banyak mendapatkan support,” ujar Jahja dalam sesi “Leadership Sharing: Leadership and Critical Thinking to Face Uncertainty” dalam rangka peluncuran buku The Art of Banker yang mengulas perjalanan karier dan gaya kepemimpinan Jahja Setiaatmadja, yang diadakan Infobank Media Group di Hotel St. Regis Jakarta, Jumat, 15 Agustus 2026.
Baca juga: BMRI dan BBCA Catat Kinerja Positif, Begini Tren Harga Saham Keduanya

Dari pengalaman di lapangan, Jahja menyadari bahwa networking menjadi salah satu kunci untuk terus memperoleh pengetahuan. Menurutnya, seorang pemimpin di perbankan tidak mungkin bekerja sendirian tanpa dukungan tim.
“Sebagai leader, jika kita bilang, ‘I know everything. Soalnya banyak baca buku, pengalaman saya banyak’. Bullshit. Tetap kita harus belajar dan belajar. Sebab itu telinga kita ada dua, mulut kita ada satu. Dengar lebih banyak daripada kita instruksi,” tegas Jahja.
Ia menilai, masukan dari bawahan juga penting untuk mengukur keberhasilan sebuah program layanan. Pasalnya, setiap daerah memiliki karakter budaya yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang tidak sama.
Jahja mencontohkan pentingnya soft skill dan networking saat BCA mengembangkan layanan mesin ATM pada era 1990-an. Saat itu, gagasan agar nasabah dapat menarik uang tunai dan melakukan transaksi selama 24 jam sempat mendapat penolakan dari sejumlah kepala cabang dan pimpinan wilayah.
Mereka khawatir layanan ATM justru mempercepat penarikan dana, sementara kantor cabang di daerah membutuhkan upaya besar untuk menghimpun likuiditas atau dana pihak ketiga (DPK) dari masyarakat.
“Mereka bilang ‘kita berusaha mengumpulkan dana tabungan’. Waktu itu kan sedang giat-giatnya kumpulkan dana tabungan. ‘Masa sih disediakan alat yang 24 jam bisa tarik uang?!’” ucap Jahja.
Untuk meyakinkan para pimpinan wilayah, Jahja bersama timnya tidak mengandalkan instruksi. Mereka melakukan pendekatan melalui pertemuan, lobi, dan komunikasi secara langsung agar para pimpinan cabang dan wilayah bersedia menerapkan layanan ATM.
“Begitu ada pilot project, kita bikin, lalu itu dijalankan. Itu ternyata menambah dana masyarakat kita. Karena orang lebih yakin, simpan di bank, any time 24 jam bisa tarik. Jadi, itu salah satu kekuatan daripada seni networking,” jelas Jahja.
Baca juga: Bos BCA Pastikan Likuiditas Terjaga, CASA Tembus Rp1.082 Triliun
Menurut Jahja, kemampuan networking seperti itu justru jarang diperoleh dari bangku kuliah. Pengalaman berinteraksi langsung dengan berbagai pihak menjadi bekal penting dalam membangun karier profesional.
“Bagaimana get along with people, bagaimana merangkul teman-teman di BCA, para nasabah, vendor rekanan, dan para birokrat, yang kita harus dekat dengan mereka satu persatu. Itu tidak mudah. Itu yang tidak ada di sekolah atau universitas,” tukas Jahja. (*) Steven Widjaja


