Poin Penting
- Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berakhir setelah berlangsung sekitar 25 jam dan kembali menjadi letusan strombolian.
- Tiga erupsi strombolian teramati setelah episode erupsi menerus berakhir.
- Aktivitas kegempaan masih tinggi sehingga status Gunung Anak Krakatau tetap Level III atau Siaga.
Jakarta – Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berakhir setelah berlangsung sekitar 25 jam. Setelah itu, aktivitas gunung kembali menunjukkan pola letusan ringan yang menjadi karakteristiknya.
Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat episode tersebut berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026. Erupsi dimulai pukul 23.07 WIB dan berakhir Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Perubahan aktivitas terjadi setelah episode erupsi menerus selesai. Gunung kemudian kembali memperlihatkan erupsi strombolian dengan kolom erupsi berwarna hitam.
Baca juga: Menhub: 1.558 Penerbangan Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan pola tersebut menjadi tanda penting. Kondisi itu untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir episode erupsi menerus.
“Setelah episode erupsi menerus berakhir, teramati tiga kali erupsi strombolian dengan warna kolom erupsi hitam. Kembalinya erupsi strombolian yang merupakan karakteristik khas Gunung Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut,” ujar Lana seperti dikutip Antara, Senin (7/9).
Meski pola erupsi berubah, aktivitas vulkanik belum sepenuhnya mereda. Hasil pemantauan instrumental pada 6-7 September 2026 masih menunjukkan kegempaan yang tinggi.
Kegempaan Masih Menunjukkan Aktivitas Tinggi
Data pemantauan mencatat tiga gempa erupsi selama periode tersebut. Selain itu, terdeteksi sembilan gempa hmbusan dan 93 gempa low frequency.
Aktivitas lainnya berupa 98 gempa hybrid atau fase banyak. Pemantauan juga mencatat empat gempa tremor menerus dan satu gempa vulkanik dangkal.
Rangkaian aktivitas tersebut membuat status gunung tetap berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi menilai potensi letusan dalam beberapa periode mendatang masih cukup tinggi.
“Potensi bahaya utama berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,” jelas Lana.
Baca juga: 6 Bandara Ditutup akibat Erupsi Anak Krakatau, Terbaru Husein Sastranegara Bandung
Warga Diminta Tetap Waspada
Badan Geologi meminta masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Imbauan tersebut juga berlaku bagi wisatawan dan pendaki.
Masyarakat yang terdampak abu vulkanik diminta mengurangi aktivitas di luar rumah. Penggunaan masker dianjurkan untuk mencegah gangguan pernapasan akibat paparan abu.
Lana juga meminta masyarakat pesisir Banten dan Lampung tetap tenang. Warga diminta tidak memercayai hoaks mengenai erupsi yang dikaitkan dengan potensi tsunami.
“Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan tidak memercayai isu-isu hoaks terkait erupsi yang dikaitkan dengan potensi tsunami. Warga diminta beraktivitas normal sambil terus mengikuti arahan BPBD setempat,” ucap Lana.
Baca juga: Abu Vulkanis Anak Krakatau sampai Tangsel, Warga Diimbau Pakai Masker
Badan Geologi melalui PVMBG masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas gunung. Pengawasan dilakukan melalui Pos Pengamatan Pasauran dan Pos Pengamatan Kalianda.
Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk membaca perubahan aktivitas vulkanik. Masyarakat juga perlu mengikuti setiap rekomendasi keselamatan dari otoritas terkait.
Erupsi menerus telah berakhir, tetapi aktivitas Anak Krakatau belum sepenuhnya tenang. Kegempaan yang masih tinggi membuat kewaspadaan tetap diperlukan. (*)
Editor: Yulian Saputra


