Poin Penting
- Mayoritas investor ritel masih trading tanpa akses data antrean order real time, sehingga tidak mengetahui tekanan beli/jual yang terjadi saat itu
- Keterbatasan infrastruktur teknologi sekuritas membuat investor bergantung pada broker summary yang terlambat, memicu keputusan yang tidak akurat
- IPOT membuka akses fitur trading real time secara gratis tanpa pindah broker, sebagai solusi untuk mengatasi kesenjangan teknologi di kalangan investor ritel.
Jakarta -Di tengah volatilitas pasar saham Indonesia yang terus meningkat sepanjang awal 2026. Kenyataan yang kembali mencuat ke permukaan, sebagian besar investor retail Indonesia masih trading dalam kondisi buta terhadap salah satu data paling kritis dalam pasar: antrean order saham secara real time.
Mereka tidak melihat siapa yang antre di depan mereka. Mereka tidak tahu berapa tekanan beli atau jual yang sedang terjadi detik ini.
Menurut Chief Marketing Officer (CMO) PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Sergio Ticoalu, nasabah terbiasa membuat keputusan beli dan jual berdasarkan broker summary, data yang sudah terlambat hingga 16 jam, sementara Smart Money bergerak berdasarkan realita yang terjadi saat ini.
Baca juga: Tangkap Potensi IPO WBSA, IPOT Permudah Akses Pembelian Investor Ritel
“Dan penyebabnya bukan kurangnya kemampuan investor. Penyebabnya adalah keterbatasan infrastruktur teknologi di sekuritas tempat mereka bergabung yang tidak dapat menghadirkan teknologi trading dengan fitur real time,” kata Sergio dikutip 14 April 2026.
Fakta industri yang perlu diketahui publik, tidak semua sekuritas di Indonesia memiliki kemampuan teknis untuk menghadirkan Live Orderbook dan indikator trading real time kepada nasabahnya.
Alasannya beragam mulai dari keterbatasan infrastruktur sistem, biaya investasi teknologi yang besar hingga ketiadaan tim riset institusi yang mendukung.
Namun dampaknya terasa langsung dan nyata di portofolio investor, yakni tidak dapat melihat antrian order saham yang sedang berjalan dan tidak mampu membaca akumulasi atau distribusi yang terjadi saat ini.
Kemudian, investor tidak mengetahui tekanan beli atau jual secara real time dan keputusan trading diambil dari data historis broker summary, bukan dari realita market yang bergerak
“Akibatnya investor masuk di puncak, keluar di dasar bukan karena salah analisa, tetapi karena salah infrastruktur,” jelasnya.
Melihat realita tersebut, IPOT memberikan “jalan” kepada nasabah lain untuk “menikmati” infrastruktur teknologi institusinya yang dibangun dengan investasi besar dan telah melayani dana kelolaan Rp312 triliun untuk diakses secara gratis.
Baca juga: Kinerja 2025 Ciamik, Saham BBCA Diproyeksi Kembali Menguat
“Ini bukan promosi. Ini adalah pernyataan sikap IPOT bahwa keterbatasan teknologi di sekuritas lain tidak boleh menjadi hukuman bagi investor retail Indonesia yang ingin trading dengan benar,” tandasnya.
Keputusan yang diambil IPOT tesebut, diklaim belum pernah terjadi atau dilakukan sebelumnya di industri sekuritas Indonesia.
“Aplikasi IPOT kini dapat diunduh dan digunakan secara gratis oleh nasabah sekuritas mana pun, tanpa kewajiban transfer dana, tanpa syarat pindah broker,” ujarnya. (*)







