Poin Penting
- Investor global kembali masuk ke saham Indonesia seiring meredanya reli saham AI dan valuasi yang murah
- IHSG menguat lebih dari 10 persen pada Juli didorong akumulasi saham konsumer, perbankan, dan tambang
- MSCI dan kondisi fiskal masih menjadi faktor utama yang dicermati investor.
Jakarta – Pasar saham Indonesia kembali dilirik investor global usai reli saham-saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sejumlah pasar utama menunjukkan tanda-tanda melambat.
Sejumlah manajer investasi pun mulai mengalihkan sebagian portofolionya dari pasar seperti Korea Selatan dan Taiwan ke saham-saham di Tanah Air yang dinilai masih memiliki valuasi murah.
Dinukil Reuters, Selasa (21/7), perubahan sentimen ini terjadi usai pasar saham Indonesia mengalami tekanan sepanjang tahun.
Indeks acuan Bursa Efek Indonesia sempat menjadi salah satu yang berkinerja terburuk di Asia dengan penurunan sekitar 28 persen.
Kondisi dipicu arus keluar modal asing lebih dari USD4 miliar, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, serta ketidakpastian terkait evaluasi status Indonesia oleh penyedia indeks MSCI.
Namun, dalam beberapa pekan terakhir, arah investasi mulai berubah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat lebih dari 10 persen sepanjang Juli, berbanding terbalik dengan pelemahan sejumlah indeks saham di kawasan yang sebelumnya ditopang oleh reli sektor AI.
Global Market Strategist Asia Pacific Invesco, David Chao, mengatakan bahwa pihaknya telah mulai merealisasikan keuntungan dari investasi di Korea Selatan dan mengalihkan sebagian dana ke Indonesia.
Baca juga: MSCI Rombak Aturan Seleksi Saham, Berlaku Mulai Agustus 2026
“Kami telah merealisasikan sebagian keuntungan di Korea Selatan dan mulai membeli saham Indonesia. Indonesia mungkin masih menjadi peluang investasi yang paling kurang diperhatikan dalam konteks pertumbuhan makroekonomi,” ujarnya.
Valuasi Murah Jadi Daya Tarik Saham Indonesia
Sejumlah investor menilai pelemahan pasar dalam beberapa bulan terakhir telah membuat valuasi saham Indonesia menjadi lebih menarik.
Head of Asia Macro and Investment Strategy BNY Investments, Aninda Mitra, menilai sebagian besar sentimen negatif terhadap Indonesia telah tercermin dalam harga saham.
“Jika valuasi semakin murah dan rupiah tetap stabil, terlepas dari keputusan MSCI yang masih ditunggu, terdapat alasan kuat untuk mulai menambah posisi secara selektif,” jelasnya.
Pandangan serupa datang dari Allan Gray yang untuk pertama kalinya masuk ke pasar Indonesia pada bulan lalu. Perusahaan tersebut membeli saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) karena menilai valuasinya berada pada level yang menarik.
Manajer Portofolio Allan Gray Rory Kutisker-Jacobson, mengatakan saham Indofood diperdagangkan pada valuasi sedikit di atas lima kali laba, sementara perusahaan memiliki posisi dominan di industri makanan dan menghasilkan arus kas yang kuat.
Selain sektor konsumer, saham-saham perbankan dan pertambangan juga mulai kembali menjadi incaran investor.
Citi, misalnya, memilih saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebagai emiten yang dinilai menarik.
Keputusan MSCI Masih Menjadi Faktor Penentu
Meski sentimen mulai membaik, investor masih mencermati hasil evaluasi MSCI terhadap status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market).
MSCI sebelumnya memperpanjang masa peninjauan untuk mengevaluasi berbagai reformasi pasar modal yang dilakukan regulator Indonesia.
Mayoritas analis memperkirakan lembaga tersebut tetap mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang dalam evaluasi berikutnya pada November 2026.
Baca juga: ”Penyiksaan” MSCI hingga November 2026 dan “Perjudian” Terakhir Pasar Modal Indonesia
Di sisi lain, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings pekan lalu kembali mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan prospek stabil. Keputusan tersebut dinilai turut membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal nasional.
Menurut Citi, Indonesia menjadi salah satu topik utama dalam berbagai pertemuan dengan investor di Hong Kong dan Thailand pada awal Juli. Sejumlah investor menilai pasar saham Indonesia berpotensi telah melewati titik terendahnya.
Tantangan Ekonomi Masih Membayangi
Meski demikian, prospek pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.
Kepercayaan investor terhadap kebijakan fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai belum sepenuhnya pulih. Kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal telah berkontribusi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang turun hampir 8 persen sepanjang tahun ini.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak, Indonesia juga rentan terhadap kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan global.
Head of Emerging Markets and China Strategy BCA Research, Arthur Budaghyan, menilai persepsi investor global terhadap Indonesia telah berubah secara struktural.
“Bagi banyak investor global, pandangan terhadap Indonesia telah mengalami penurunan secara struktural. Standar yang harus dipenuhi agar investor meningkatkan alokasi dana ke Indonesia kini menjadi jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Meski demikian, data Copley Fund Research menunjukkan lebih dari separuh manajer investasi aktif global masih mempertahankan posisi overweight terhadap Indonesia.
Porsi investasi mereka memang turun menjadi 80,45 persen, level terendah dalam 15 tahun terakhir, namun belum menunjukkan aksi keluar secara besar-besaran.
Menurut Copley Fund Research, prospek fundamental Indonesia masih tetap menarik sehingga risiko kehilangan momentum pemulihan kini dinilai lebih besar dibandingkan risiko menunggu terlalu lama di luar pasar. (*)
Editor: Galih Pratama


