Poin Penting
- BTN masih punya ruang Rp3 triliun untuk menerbitkan obligasi subordinasi dari total PUB Rp5 triliun, setelah sebelumnya menerbitkan Rp2 triliun
- Penerbitan subordinasi masih wait and see, dengan mempertimbangkan kebutuhan permodalan dan posisi CAR BTN yang berada di kisaran 17-18 persen
- BTN siapkan sekuritisasi Rp300-Rp400 miliar pada akhir 2026 untuk menjaga pasar sekuritisasi tetap hidup, bukan karena kebutuhan likuiditas.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membuka peluang untuk menambah modal perseroan melalui penerbitan instrumen pendanaan baru. Namun, langkah tersebut akan disesuaikan dengan kondisi kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan.
Direktur Treasury & International Banking BTN Venda Yuniarti mengatakan, BTN sebelumnya telah menerbitkan obligasi subordinasi sebesar Rp2 triliun pada akhir tahun lalu. Penerbitan tersebut merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi subordinasi dengan total plafon Rp5 triliun.
Dengan demikian, BTN masih memiliki ruang penerbitan obligasi subordinasi sebesar Rp3 triliun. Meski begitu, perseroan akan mempertimbangkan kebutuhan permodalan sebelum merealisasikan penerbitan tersebut.
Baca juga: BTN Kasih Bocoran Dividen Tahun Buku 2026, Segini Kisaran Rasio Pembayarannya
“Untuk akhir tahun lalu kita sudah menerbitkan obligasi subordinasi Rp2 triliun dari platform yang kita punya PUB untuk subordinasi sebesar Rp5 triliun. Ini masih ada. Tapi memang melihat sisa Rp3 triliun ini kita akan sesuaikan dengan kebutuhan permodalanya BTN,” ujar Venda dalam Public Expose Live 2026, Kamis, 10 September 2026.
Venda menyebutkan, posisi CAR BTN saat ini masih berada di kisaran 17 persen hingga 18 persen. Dengan level permodalan tersebut, perseroan masih bersikap wait and see terhadap rencana penerbitan instrumen subordinasi.
Di sisi lain, BTN juga berencana kembali melakukan sekuritisasi pada akhir tahun ini. Perseroan tengah mempersiapkan transaksi sekuritisasi melalui penerbitan senior debt atau obligasi senior.
“Akhir tahun ini kita ada rencana untuk melakukan sekuritisasi lagi, setelah dua-tiga tahun terakhir kita sudah lama tidak melakukan sekuritisasi,” imbuhnya.
Baca juga: BTN Bidik Porsi Kredit Non-Perumahan 30 Persen pada 2030, Ini Strateginya
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menegaskan, rencana sekuritisasi tersebut bukan didorong oleh kebutuhan likuiditas. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keberlangsungan pasar sekuritisasi setelah BTN tidak melakukan penerbitan sekuritisasi selama dua hingga tiga tahun terakhir.
“Kita melihat market-nya ada. Tapi jumlahnya tidak akan besar, size-nya sekitar Rp300-Rp400 miliar. Jadi tidak akan besar, tapi kita tetap menjaga supaya market-nya tetap hidup,” ungkap Nixon. (*)
Editor: Galih Pratama


