Jakarta – Berangkat dengan percaya diri ke negeri Paman Sam, untuk mengunjungi markas Plug and Play di Silicon Valley, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) punya mimpi besar. Mimpi Jokowi di era digital ini adalah terwujudnya ekonomi digital Indonesia kedepan.
Jokowi berharap Plug and Play dapat bekerjasama dalam upaya mewujudkan mimpi Jokowi di era digital yakni mencapai visi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara yang mencapai USD130 miliar pada 2020. Caranya dengan menumbuhkan potensi perusahaan-persahaan startup di Indonesia.
Plug and Play sendiri merupakan sebuah perusahaan global akselerator bisnis dengan spesialisasi pada pengembangan perusahaan rintisan berbasis teknologi.
Dengan kantor pusat di Silicon Valley, jaringan bisnis Plug and Play mencakup lebih dari 200 mitra korporasi, investor, universitas, dan mitra-mitra lain terkait dengan bidang yang dikembangkan seperti Retail, Fin-Tech, Internet of Things, Media, dan Cloud. (Selanjutnya : Ini tantangan mencapai ekonomi digital)
Namun apakah mimpi Jokowi di era digital tersebut bisa dicapai dengan mudah? Mengingat sejauh ini tidak sedikit perusahaan startup yang tumbang karena kesulitan permodalan, sehingga kalah dalam menangkap pasar. Belum lagi permasalahan-permasalahan seperti izin dan lain-lain. (Baca juga : 2020, RI Bisa Jadi Negara Digital Ekonomi Terbesar)
Hal ini diakui salah satu perusahaan start-up yakni “Cashlez”. Pendiri Perusahaan payment gate way ini, Teddy Setiawan Tee mengakui permodalan menjadi salah satu permasalahan utama perusahaan startup. (Baca juga : Dorong Digitalisasi UMKM, BRI Gandeng Kemkominfo)
Tidak heran, meski saat ini banyak perusahaan-perusahaan startup bermunculan, tak sedikit pula startup yang mati akibat tidak berkembang. “Perusahaan startup semuanya mulai dari nol, jadi dari sisi funding juga ga gampang. Kita sendiri untuk modal awal dari temen-temen, istilahnnya join invest,” kata Teddy kepada Infobank.
Cashlez sendiri merupakan perusahaan payment gate way yang dibangun awal 2015. Perusahaan tersebut saat ini terkoneksi dengan Bank Mandiri, BNI dan Maybank serta 300 merchane. Dengan memproses lebih dari Rp6 miliar transaksi setiap bulan, Cashlez memperoleh Fee based income hingga Rp120 juta/bulan.
Cashlez tentunya hanya sebagian kecil perusahaan startup yang boleh dibilang sudah berjalan baik, meski baru berdiri 1 setengah tahun. Namun masih banyak lagi perusahaan startup lain yang mungkin lebih sukses dari Cashlez. (Selanjutnya : Pemerintah harus bantu kembangkan startup di Indonesia)
Kini tingal bagaimana pemerintah kedepan menangkap hal tersebut. Bukan tidak mungin mimpi Jokowi mencapai visi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara yang mencapai USD130 miliar justru bisa terealisasi lebih cepat dari target di 2020.
Chief Executive Officer (CEO) Plug and Play, Saeed Amidipun berharap pemerintah juga turut membantu perkembangan startup di Indonesia. Setidaknya, ia ingin regulasi yang ada tidak mempersulit proses investasi.
“Kami rasa pemerintah harus membuat regulasi untuk mempermudah orang-orang berinvestasi di startup untuk membantu pertumbuhan startup. Kami juga sangat terbuka bekerjasama dengan berbagai pihak, termausk universitas, pemerintah dan korporasi,” jelas Amidi.
Ia pun mengingatkan para startup untuk tidak cepat menyerah. Jatuh bangun dalam sebuah usaha, bukan alasan untuk berhenti bekerja keras. Mencoba sesuatu yang baru dan menantang, katanya, memang lebih beresiko. Tapi tidak lantas menyerah begitu saja.
Saeed Amid sendiri mengaku akan dijadwalkan bertemu lagi dengan Jokowi, pada pekan ini. Pertemuan ini digelar setelah pada program akselerator startup, Plug and Play Indonesia, diluncurkan kemarin.
Kehadiran Plug and Play Indonesia merupakan jawaban atas keinginan Jokowi, agar pihaknya dapat berperan dalam upaya Indonesia mencapai visi ekonomi digital terbesar di Asia Tengara yang diprediksi mencapai USD130 miliar pada 2020.
Indonesia diharapkan bisa belajar dari konsep akselerator dan inkubator model Silicon Valley untuk mempercepat digital ekonomi di Indonesia, terutama startup. Dwitya Putra
(Baca juga : BNI Antisipasi Potensi Fraud di Pembiayaan Digital)


