Poin Penting
- Kemendag meminta UMKM perempuan memahami kebutuhan pasar tujuan, baik nasional maupun internasional, agar produk lebih kompetitif.
- Pemenuhan standar internasional dan keberlanjutan menjadi kunci ekspor, termasuk untuk menembus pasar Uni Eropa.
- Program Desa Bisa Ekspor telah mengidentifikasi 787 desa siap ekspor untuk mendorong produk unggulan daerah masuk pasar global.
Jakarta – Perempuan memiliki peran besar dalam menggerakkan perekonomian Indonesia. Data Kementerian UMKM menunjukkan lebih dari 50 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan. Bahkan, sejumlah data mencatat porsinya mencapai sekitar 65 persen dari total 64,5 juta UMKM yang ada.
Meski mendominasi sektor UMKM, pelaku usaha perempuan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses permodalan hingga minimnya dukungan dan pendampingan untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, menilai salah satu langkah penting yang perlu dilakukan pelaku UMKM perempuan adalah memahami kebutuhan pasar yang ingin dituju, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Kita memang harus memikirkan terlebih dahulu, apa yang dibutuhkan oleh pasar. Sehingga, produk kita bisa berhasil dijual dengan baik dan bisa mendapatkan pemasukan yang optimal. Di mana, perempuan juga dalam hal ini bisa berdaya,” ujar Dyah pada acara Kunstkring Dialogue “Weaving Wonders: Tenun, Pangan, Energi, dan Perempuan – dari Warisan ke Kekuatan Ekonomi” di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Baca juga: Kemenkeu Sebut Pemberdayaan UMKM Perempuan Jadi Pilar Strategis Ekonomi Nasional
Menurut Dyah, pemahaman terhadap regulasi dan standar pasar global menjadi faktor penting agar produk UMKM Indonesia mampu bersaing di luar negeri.
Ia mencontohkan penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan sejumlah komoditas memenuhi standar rantai pasok berkelanjutan sebelum masuk ke pasar Uni Eropa.
“Maka, ini suatu hal yang juga penting untuk kita dengarkan, sehingga produk-produknya bisa sampai,” sambungnya.
Dyah menegaskan bahwa standar internasional tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai kebutuhan pasar yang harus dipenuhi agar produk memiliki daya saing global.
Perkuat Promosi Melalui Expo Internasional
Selain kualitas produk, promosi juga menjadi faktor penting. Menurut Dyah, pameran atau expo UMKM, khususnya yang berskala internasional, perlu dikemas secara menarik agar mampu menarik perhatian pembeli global.
Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan ekspor produk Indonesia, tetapi juga dapat mendorong kunjungan wisatawan mancanegara ke berbagai destinasi wisata di Tanah Air.
Baca juga: BI Hadirkan Model Baru Pembinaan UMKM, Ini Fokusnya!
Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemendag perlu berkolaborasi dengan berbagai sektor dalam pendekatan lintas industri agar promosi yang dilakukan lebih optimal.
“Lalu, selain dari itu, kita tampilkan juga produk-produk unggulan kita yang memang pada prinsipnya sudah memenuhi standar-standar internasional tadi,” sebut Dyah.
Dorong Ekspor Lewat Program Desa Bisa Ekspor
Sebagai bentuk pendampingan, Kemendag telah menjalankan program Desa Bisa Ekspor yang bertujuan memetakan desa-desa potensial untuk mengembangkan produk ekspor.
Program yang telah berjalan hampir satu tahun itu berhasil mengidentifikasi 2.618 desa, dengan 787 desa di antaranya dinilai siap memasuki pasar ekspor.
“Yang mana, tentunya komoditas – komoditas yang terdapat di dalam desa tersebut itu memang bisa kita dorong untuk dilakukan kegiatan ekspor tadi,” jelasnya.
Baca juga: Ekspor Indonesia Capai USD92,15 Miliar hingga April 2026, Naik 5,48 Persen
Melalui program tersebut, Dyah mengaku telah melihat langsung peran besar perempuan desa dalam menghasilkan berbagai produk unggulan, termasuk kerajinan tenun yang memiliki potensi pasar internasional.
“Sekarang PR kita berikutnya yaitu langkah-langkah konkret apa yang harus kita lakukan, sehingga pemasaran produk-produk unggulan ini bisa kita lakukan secara maksimal. Dan, tentu dalam hal ini kita juga harus bekerja sama,” tandasnya. (*) Steven Widjaja


