Poin Penting
- AI kini digunakan untuk analisis pasar dan pengambilan keputusan investasi berbasis data real time, bukan sekadar chatbot
- AI Trading mengolah data harga saham, broker, order book, dan laporan keuangan untuk membantu analisis investasi
- Teknologi AI yang sebelumnya dominan dipakai institusi besar kini diharapkan bisa diakses investor ritel di tengah pertumbuhan investor pasar modal Indonesia.
Jakarta – Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di industri investasi mulai memasuki tahap yang lebih maju. Jika sebelumnya teknologi AI lebih banyak dimanfaatkan sebagai chatbot, pencari informasi, maupun peringkas berita, kini AI mulai digunakan untuk membantu proses analisis pasar dan pengambilan keputusan investasi berbasis data.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu arah transformasi yang mulai ditempuh pelaku industri sekuritas seiring meningkatnya kebutuhan investor terhadap analisis yang lebih cepat, objektif, dan mampu mengolah data pasar dalam jumlah besar secara real time.
Salah satu perusahaan yang mulai mengadopsi pendekatan tersebut adalah PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) melalui peluncuran IPOT AI Trading. Platform ini dirancang untuk memanfaatkan kecerdasan buatan dalam mengolah berbagai data pasar, mulai dari pergerakan harga saham, aktivitas broker, order book, laporan keuangan emiten, hingga indikator teknikal sebagai dasar analisis investasi.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The, mengatakan pemanfaatan AI di sektor investasi seharusnya tidak berhenti pada fungsi pendukung seperti chatbot maupun penyajian informasi.
Nilai utama AI justru terletak pada kemampuannya memproses data dalam skala besar untuk menghasilkan analisis yang lebih objektif dibandingkan pendekatan konvensional.
“Nilai terbesar AI terletak pada kemampuannya mengolah data dalam skala yang jauh melampaui kapasitas manusia sehingga menghasilkan insight yang lebih terukur dan mendukung keputusan investasi yang lebih presisi,” ujar Moleonoto, seperti dikutip, Kamis, 16 Juli 2026.
Baca juga: Teknologi AI Mulai Ubah Cara Investor Ritel Analisis Saham
Ia menambahkan, selama ini kemampuan analitik berbasis AI umumnya hanya dimanfaatkan oleh institusi keuangan besar karena membutuhkan infrastruktur komputasi dan data dalam jumlah masif. Melalui IPOT AI Trading, teknologi tersebut diharapkan dapat diakses oleh investor ritel melalui satu aplikasi investasi.
“Sistem AI yang dikembangkan IPOT bekerja melalui tiga lapisan utama, yakni AI Big Data, AI Inferencing, dan AI-Powered Decision Engine,” tambahnya.
Ketiga komponen tersebut berfungsi mengumpulkan jutaan data pasar secara real time, mengolahnya menggunakan machine learning dan algoritma analitik, kemudian menghasilkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan investasi.
Kemampuan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam lima fitur utama, yakni AI Analytics, AI Trade Flow, AI Notification, AI Financial, serta AI Real-Time Indicators. Fitur-fitur tersebut dirancang untuk membantu investor membaca pergerakan pasar, mengevaluasi fundamental emiten, memantau aktivitas perdagangan, hingga memperoleh notifikasi berbasis perubahan kondisi pasar.
Selain itu, pengembangan teknologi AI tersebut juga didukung oleh besarnya basis data transaksi yang dimiliki perusahaan. Saat ini IPOT mengelola asset under custody (AUC) sekitar Rp312 triliun yang menjadi sumber data dalam melatih model AI agar mampu mengenali pola pergerakan pasar secara lebih akurat.
Meski demikian, ia menuturkan bahwa AI tidak sepenuhnya menggantikan peran analis. Perusahaan tetap mengombinasikan hasil analisis AI dengan riset yang disusun tim analis internal sehingga investor memperoleh perspektif yang lebih komprehensif, baik dari sisi data pasar maupun kondisi fundamental ekonomi.
Sementara itu, pengembangan teknologi tersebut juga dibarengi dengan penguatan sistem keamanan siber untuk melindungi akun investor dari berbagai ancaman digital, termasuk upaya phishing.
“AI bukan sekadar membuat informasi lebih mudah dibaca, tetapi membantu investor mengambil keputusan investasi yang lebih baik melalui analisis berbasis data,” tuturnya.
Peluncuran teknologi berbasis AI ini pun dilakukan di tengah terus bertambahnya jumlah investor pasar modal di Indonesia. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal telah mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID).
Dari jumlah tersebut, investor saham dan surat berharga lainnya tercatat sebanyak 9,9 juta SID atau meningkat 15,1 persen dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai 8,6 juta SID.
Baca juga: Pilarmas Investindo Nilai PFII jadi Katalis Positif Masuknya Modal Asing
Dari sisi kepemilikan, investor domestik menguasai 61 persen kepemilikan saham di pasar modal, terdiri atas investor institusi sebesar 43,3 persen dan investor ritel 17,7 persen. Sementara itu, porsi kepemilikan investor asing tercatat sebesar 39,1 persen.
Dominasi investor domestik juga tercermin dari aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Investor domestik menyumbang 65,5 persen dari total nilai transaksi, dengan kontribusi terbesar berasal dari investor ritel sebesar 52,5 persen, sedangkan investor institusi domestik berkontribusi 13 persen.
“IPOT memandang masa depan investasi tidak ditentukan oleh banyaknya fitur AI, melainkan oleh infrastruktur yang mampu mengintegrasikan data menjadi keputusan finansial yang nyata,” pungkas Moleonoto. (*) Ayu Utami

