Poin Penting
- Kapasitas data center Indonesia tumbuh pesat, diproyeksikan melonjak seiring kebutuhan AI.
- Keterbatasan lahan dan energi membuat Singapura tertinggal, perusahaan beralih ke Indonesia.
- Kawasan sekitar Jakarta menjadi pusat data center AI karena dukungan lahan dan infrastruktur.
Jakarta – Industri data center di Indonesia diproyeksikan terus tumbuh signifikan. Salah satu pelaku industri, Digital Realty Bersama, memperkirakan pertumbuhan artificial intelligence (AI) data center akan meningkat dua kali lipat pada 2026 dari rata-rata 500 MW per tahun.
Lonjakan kapasitas ini bahkan disebut berpotensi menjadikan Indonesia sebagai episentrum data center di Asia Tenggara, bahkan Asia, melampaui Singapura yang selama ini dikenal sebagai hub teknologi kawasan.
“Singapura memutuskan untuk tidak mengizinkan pembangunan data center tambahan di Singapura, karena keterbatasan kapasitas seperti listrik dan air. Saya pikir itu salah satu kelebihan yang Indonesia miliki. Kita masih memiliki tanah, kapasitas, dan air,” ujar Chief Financial Officer Digital Realty Bersama, Krishna Worotikan di Jakarta, Rabu, 22 April 2026.
Baca juga: Industri Data Center RI Tumbuh Pesat, Didorong Lonjakan Kebutuhan AI
Krishna mengungkapkan, 2-3 tahun lalu banyak perusahaan Indonesia menyimpan data di Singapura. Namun kini tren tersebut mulai berbalik.
“Karena keterbatasan ruang (di Singapura), mereka mulai bergerak ke Indonesia. Jadi, kita juga melihat perusahaan regional atau global menyimpan data di Indonesia untuk operasi regional mereka,” sebutnya.
Perubahan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai lokasi strategis bagi perusahaan multinasional dalam penyimpanan data dan pengelolaan infrastruktur digital.
Bekasi dan Sekitarnya jadi Pusat AI Data Center
Direktur Bisnis dan Komersial Digital Realty Bersama, Andha Yudha Permana, menyebut kawasan Bekasi seperti Cibitung, Cikarang, Deltamas, dan Jakarta Timur menjadi pusat pengembangan AI data center di Indonesia.
Wilayah ini dipilih karena ketersediaan lahan yang luas, memungkinkan pembangunan data center horizontal untuk menampung beban kerja AI yang besar.
“Karena satu rack-nya GPU itu beratnya sekitar 2 ton. Sementara standar dari kekuatan lantai data center yang ada di dalam kota itu hanya 1,5 ton. Sehingga, kebanyakan para pemain AI data center memilih untuk membangun di luar Jakarta,” kata Andha.
Baca juga: Ini Langkah Pemerintah Dorong Investasi Data Center di KEK Batam
Sementara itu, data center di dalam kota Jakarta lebih difokuskan untuk kebutuhan enterprise seperti perbankan dan layanan keuangan yang membutuhkan latensi rendah.
“Bagi suatu bank, jika menjalankan aplikasi internet banking delay-nya sampai 5 detik, customer sudah komplain. Untuk AI sendiri, customer sekarang kalau direspons AI selama 5-10 detik, tak ada yang komplain. Karena memang that’s how they work, dia butuh waktu untuk tarik data. Makanya, AI data center itu adanya di luar Jakarta,” jelas Andha.
Potensi Tumbuh 2 Kali Lipat
Berdasarkan data internal perusahaan, pertumbuhan data center berbasis AI di Indonesia mencapai sekitar 500 MW per tahun, mayoritas berada di wilayah Bekasi yang masih memiliki lahan luas.
Meski masih di bawah Johor Bahru yang tumbuh di atas 1.000 MW per tahun, Andha optimistis pertumbuhan Indonesia akan melonjak signifikan.
“Secara potensi, kurang lebih ada 500 megawatt, dan kemungkinan akan double sampai akhir tahun. Seperti yang kita lihat di berita, sudah banyak sekali entitas data center yang klaim akan bangun 200 megawatt, 150 megawatt di luar Jakarta,” tandas Andha. (*) Steven Widjaja








