Poin Penting
- Digital Realty Bersama akan ekspansi ±27 MW karena tingginya utilisasi dan permintaan
- Permintaan data center berbasis AI meningkat, terutama untuk workload besar
- Tantangan utama: listrik, infrastruktur, dan rendahnya adopsi AI di Indonesia.
Jakarta – Salah satu penyedia layanan data center asal Indonesia, Digital Realty Bersama, menyatakan kesiapannya untuk melakukan ekspansi penambahan kapasitas data center. Ekspansi ini dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan permintaan akan data center yang semakin meningkat dari kalangan enterprise di Jakarta.
Hingga kini, 50-50 joint venture antara Bersama Digital Infrastructure Asia (BDIA) dan Digital Realty tersebut telah memiliki dua pusat situs data center di Jakarta Barat (CGK10) dan Jakarta Pusat (CGK11), dengan total kekuatan data center 63 MW (Megawatt), kapasitas rack 9.000 lebih, area data hall 20.000 lebih meter persegi, dan luas tanah 23.700 lebih meter persegi.
Direktur Bisnis dan Komersial Digital Realty Bersama, Andha Yudha Permana menjelaskan jika tingkat utilisasi atas pusat data center di Jakarta Barat (CGK10) sudah 95 persen terisi dengan total kapasitas 1,4 MW. Sedangkan untuk di CGK11, sudah terisi 60 persen dari total kapasitas 5 MW.
“Jadi, karena sudah menyentuh angka 60 persen, maka kami berencana untuk expand, menambah kapasitas yang nanti akan ada di building sebelah ini. Kita sudah punya tanahnya, kita akan expand kurang lebih 27 MW,” ujar Andha dalam acara halal bihalal bersama jurnalis di Digital Realty Bersama Data Center CGK11 Jakarta, Rabu, 22 April 2026.
Baca juga: AI Ubah Lanskap Ancaman Siber Industri Perbankan
Andha lebih jauh menerangkan bahwa infrastruktur pusat data center yang dimiliki pihaknya sudah bisa mengakomodasi artificial intelligence (AI) equipment, termasuk dalam aspek GPU.
Sementara, Chief Financial Officer Digital Realty Bersama, Krishna Worotikan menambahkan, penggunaan AI yang semakin meluas dewasa ini di kalangan individu dan enterprise dengan persentase pemakaian sekitar 60 persen, membuat infrastruktur pusat data center berbasis AI yang dimiliki Digital Realty Bersama semakin diminati.
“Customer itu memang sudah mulai mengarahnya ke workload yang besar. Bila kita dapat permintaan 20 kilowatt ke atas, itu sudah hampir pasti biasanya akan digunakan untuk AI workload. Jadi, itu sudah mulai berdatangan gitu ya di data center kami,” ungkapnya.
Namun begitu, penggunaan AI dan kaitannya dengan data center yang mengakomodir AI ini bukanlah tanpa tantangan. Krishna membeberkan beberapa tantangan seperti ketersediaan power maupun infrastruktur serta tingkat maturity dalam pemakaian AI di masyarakat Indonesia masih menjadi tantangan.
Ia mengungkapkan, penggunaan AI di luar negeri sudah berada pada level creation dan tak sekadar membantu mencari referensi atau inspirasi. Sementara di Indonesia, penggunaan AI masih banyak yang terbatas pada sekadar aspek membantu dalam mencari referensi. Mengingat, masih rendahnya keyakinan pasar di Indonesia atas kemampuan dari AI.
Berdasarkan data Digital Realty Bersama, pertumbuhan data center yang mengadopsi/mengakomodir AI di Indonesia bertumbuh sekitar 500 MW setiap tahunnya, yang masyoritas berada di sekitaran Jakarta seperti wilayah Bekasi dengan lahan-lahan tanah yang masih luas. Angka pertumbuhan itu masih kalah dengan Johor Baru yang memiliki pertumbuhan di atas 1.000 MW setiap tahunnya.
“Jadi, I think there is a lot yang kita perlu lakukan secara paralel juga untuk meng-educate market atau consumer bagaimana cara mereka bisa menggunakan AI untuk menciptakan benefit atau productivity, sehingga demand tambah naik,” imbuh Krishna.
Memberikan contoh sampel nyata dari penggunaan AI pada klien-klien Digital Realty Bersama di negara lainnya, menjadi strategi edukasi yang ditempuh pihaknya. Selain itu, adanya regulasi di Indonesia yang mewajibkan penyimpanan data konsumen perbankan di dalam negeri turut mendorong industri data center nasional.
Baca juga: Menkomdigi: Teknologi AI Bisa Tingkatkan PDB RI 3,67 Persen
“Jadi, konsumen kita memang mayoritas berasal dari perbankan atau sektor jasa keuangan lainnya. Ini karena ada regulasi yang mewajibkan perbankan untuk menyimpan datanya di dalam negeri,” sambung Andha.
Andha pun meyakini AI data center di Indonesia bakal bertumbuh dua kali lipat di 2026 dari rata-rata pertumbuhan tahunan 500 MW. Mengingat, semakin banyaknya demand dan pihak yang aware atas pentingnya data center di Indonesia.
“Secara potensi, kurang lebih ada 500 megawatt, dan kemungkinan akan double sampai akhir tahun. Seperti yang kita lihat di berita, sudah banyak sekali entitas data center yang klaim akan bangun 200 megawatt, 150 megawatt di luar Jakarta,” tandas Andha. (*) Steven Widjaja








