Poin Penting
- Synology menilai kendali dan keamanan data menjadi tantangan utama perusahaan di tengah meningkatnya adopsi AI dan ancaman siber yang semakin kompleks.
- Perusahaan memperkenalkan pembaruan DSM dan ActiveProtect Manager 2.0 untuk mendukung pemanfaatan AI secara privat, pengelolaan infrastruktur, serta perlindungan data yang lebih proaktif.
- ActiveProtect Manager 2.0 memperluas dukungan backup dan recovery lintas platform, termasuk cloud, virtualisasi, dan aplikasi SaaS guna meningkatkan ketahanan siber perusahaan.
Jakarta – Perusahaan teknologi asal Taiwan, Synology menyebut di tengah meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) dan ancaman siber yang semakin kompleks, kendali atas data menjadi tantangan utama bagi perusahaan.
Kondisi itu menuntut perusahaan memiliki infrastruktur data yang tidak hanya berfungsi sebagai penyimpanan (storage). Tapi juga melindungi sekaligus membantu data digunakan secara lebih aman, terkontrol dan bisa cepat dipulihkan jika terjadi insiden.
Synology melihat, tantangan terbesar pemanfaatan AI bukan lagi soal teknologi, tapi bagaimana perusahaan tetap bisa mengendalikan dan mengamankan data mereka.
Maka itu, di ajang Computex 2026 yang digelar di Taipei, Taiwan, Synology memaparkan arah pengembangan terbaru platform datanya untuk membantu perusahaan menghadapi tantangan baru dalam pengelolaan data, termasuk mendukung kebutuhan AI dan ketahanan siber.
Baca juga: Synology Ungkap Strategi Ketahanan Siber untuk Perkuat Data Industri Keuangan
Synology memperkuat kemampuan perusahaan mengelola data sebagai aset straetgis lewat pengembangan generasi baru DiskStation Manager (DSM) dan pembaruan ActiveProtect Manager 2.0.
Pengembangan ini disebut mencakup pemanfaatan AI secara privat di lingkungan on-premise, pengelolaan infrastruktur dalam skala besar, dan perlindungan data yang bergerak dari pemulihan reaktif menuju pertahanan yang lebih proaktif.
“Adopsi AI di enterprise kini bukan lagi tantangan utama. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana organisasi tetap memiliki kendali penuh atas data mereka,” ujar Philip Wong, Chairman dan CEO Synology dikutip dari keterangan resmi, Jumat, 5 Juni 2026.
Memegang Kendali Data
Saat ini banyak perusahaan yang memiliki data internal yang sangat bernilai, seperti dokumen kerja, catatan operasional, log sistem, hingga metrik infrastruktur. Tapi, seringkali masih tersebar berbagai sistem dan belum benar-benar dioptimalkan untuk mendukung produktivitas, otomatisasi, maupun pengambilan keputusan.
Di lain sisi, layanan AI berbasis cloud bisa menimbulkan pertimbangan baru terkait privasi, biaya, tata kelola, dan kepatuhan. Synology menjawab kebutuhan itu lewat pengembangan terbaru DSM. Solusi ini membawa sistem operasi penyimpanan Synology menjadi platform smart data, yang mendukung alur kerja AI secara privat di lingkungan lokal.
Baca juga: 5 Tahun Garap Pasar RI, Synology Catat Pertumbuhan Pendapatan hingga 400 Persen
Lewat pendekatan ini, perusahaan bisa membangun knowledge base privat dari data yang dimiliki, tanpa harus memindahkan data sensitif ke luar lingkungan perusahaan.
“Platform ini memungkinkan organisasi menjalankan alur kerja AI secara privat, dengan tata kelola yang jelas, manajemen infrastruktur dalam skala besar, serta kontrol keamanan yang dibutuhkan tim IT untuk memenuhi tuntutan regulasi dan kepatuhan,” papar Bie-i Chu, Executive Vice President of Synology NAS Group.
Di samping mendorong adopsi AI, Synology juga memperkuat otomatisasi dan pengelolaan infrastruktur dalam skala besar. Adanya fitur DSM Agent membantu tim IT menjalankan berbagai tugas administrasi lintas sistem dan mendukung pengaturan workflow yang lebih kompleks.
Keberadaan guardrail dan kontrol governance bawaan membuat perusahaan memiliki visibilitas terhadap bagaimana AI mengakses dan menggunakan data internal. Sementara, Active Insight dengan fitur Mass Deployment mempercepat provisioning dan konfigurasi sistem baru, terutama di lingkungan yang tersebar.
Sementara dari sisi keamanan dan kepatuhan, DSM generasi berikutnya memperluas Role-Based Access Control atau RBAC, sehingga pengaturan akses bisa dilakukan secara lebih granular.
Perlindungan Data
Dengan infrastruktur perusahaan yang semakin tersebar, perlindungan data tidak bisa hanya fokus pada satu lokasi (platform). Workload kini dapat berada di cloud, virtualisasi, maupun aplikasi SaaS. Jadi, perusahaan membutuhkan strategi backup dan recovery yang lebih menyeluruh.
Lewat ActiveProtect Manager 2.0, Synology memperluas dukungan backup dan recovery ke berbagai platform utama, termasuk Azure Virtual Machines, Amazon EC2, Nutanix AHV,
Proxmox VE, dan Google Workspace. ActiveProtect Manager 2.0 menyediakan fleksibilitas pemulihan yang lebih besar.
“AI telah membuat ancaman siber berkembang semakin cepat dan semakin sulit diimbangi oleh enterprise. Kondisi ini mendorong organisasi untuk mencari perlindungan data yang tidak hanya andal, tetapi juga mudah diterapkan,” tegas Philip Wong. (*) Ari Astriawan


