Poin Penting
- Dirut BRI Hery Gunardi menilai kenaikan outstanding dan imbal hasil SRBI memperketat likuiditas pasar.
- Outstanding SRBI menembus Rp1.021 triliun pada akhir Juni 2026.
- SRBI dinilai meningkatkan persaingan penghimpunan dana dan mengurangi likuiditas untuk intermediasi perbankan.
Jakarta – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sekaligus Ketua Perbanas Hery Gunardi menyatakan kenaikan imbal hasil (yield) dan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) memicu tekanan terhadap likuiditas di pasar keuangan dan persaingan penghimpunan dana rupiah.
“Kenaikan outstanding yield SRBI dan juga volumenya memperbesar tekanan likuditas dan memperketat kompetisi penghimpunan dana rupiah,” ujar Hery dalam forum diskusi “Mid-Year Economic Outlook 2026” yang digelar Infobank Media Group, di Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.
Baca juga: Bos BRI Ungkap Dampak Kenaikan BI Rate ke Industri Perbankan
Tercatat, posisi hingga Mei 2026, volume outstanding SRBI mencapai Rp979,98 triliun, meningkat dari Rp730,9 triliun pada Desember 2025. Bahkan, pada akhir Juni 2026 nilai SRBI mencapai Rp1.021 triliun. Dari total tersebut bank juga memiliki SRBI sekitar Rp677 triliun.
“Pertumbuhan outstanding yang signifikan ini menunjukkan bahwa SRBI semakin menjadi instrumen penempatan dana yang kompetitif baik bagi bank maupun investor nonbank,” ungkapnya.
Baca juga: SRBI Makin Menarik, BI Catat Aliran Modal Asing Tembus Rp54,3 Triliun
Menurutnya, tren kenaikan SRBI ini menciptakan dua tekanan sekaligus yakni, kompetisi langsung terhadap pricing deposito perbankan sebagai instrumen penempatan dana, serta penyerapan likuiditas pasar yang signifikan.
“Karena yang mengalir ke SRBI mengurangi volume yang tersedia untuk intermediasi perbankan. Hampir kering di market,” tambahnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


