Poin Penting
- Bank emas dinilai mampu memperkuat stabilitas ekonomi nasional
- Bullion bank membuka peluang instrumen keuangan berbasis emas
- Bank emas nasional kini mengelola 153 ton emas.
Jakarta – Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, menilai kehadiran bank emas nasional (bullion bank) berpotensi memberikan manfaat besar bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam memperkuat stabilitas ekonomi dan memperdalam sektor keuangan nasional.
Menurutnya, pengelolaan emas nasional yang kini mencapai 153 ton menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan aset emas domestik sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap investasi berbasis logam mulia.
“Untuk berjaga-jaga dampak ekonomi ketika, katakanlah, di satu negara emasnya semakin banyak, maka memperkuat stabilitas ekonomi,” kata Tauhid dikutip Antara, Selasa, 21 Juli 2026.
Ia menjelaskan, semakin besar cadangan emas yang dikelola suatu negara, semakin kuat pula daya tahannya dalam menghadapi gejolak ekonomi global maupun tekanan terhadap nilai tukar mata uang.
Menurut Tauhid, emas selama ini dikenal sebagai salah satu instrumen investasi yang relatif stabil dibandingkan aset keuangan lainnya. Karena itu, pengelolaan emas melalui bank emas dinilai dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian nasional.
Dinilai Perkuat Ketahanan Ekonomi
Tauhid menyebut, sejumlah negara maju, seperti Jerman, China, dan Jepang, telah lama menjadikan cadangan emas sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan ekonomi.
Baca juga: Gadai Emas BSI Tembus Rp13 Triliun, Meroket 100 Persen dalam 6 Bulan
Karena itu, kata Tauhid, Indonesia dinilai perlu terus meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan cadangan emas nasional melalui pengembangan bank emas.
Ia menambahkan, keberadaan bullion bank juga membuka peluang lahirnya berbagai instrumen keuangan berbasis emas, sehingga logam mulia tidak hanya berfungsi sebagai sarana investasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai penopang aktivitas pembiayaan.
“Sebagai jaminan pembiayaan, instrumen keuangan, ataupun yang lain,” ujarnya.
Menurut dia, pengembangan instrumen keuangan berbasis emas dapat mendukung pendalaman pasar keuangan domestik sekaligus memperluas alternatif investasi bagi masyarakat.
Prabowo Sebut Bank Emas Kelola 153 Ton Emas
Sebelumnya, Presiden RI, Prabowo Subianto mengatakan, layanan bank emas nasional telah mengelola 153 ton emas dengan nilai sekitar 20 miliar dolar Amerika Serikat sejak diluncurkan pada 2025.
Dalam taklimat pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin, 20 Juli 2026, Prabowo menyebut pendirian bullion bank sebagai salah satu capaian pemerintah dalam 20 bulan pertama masa kepemimpinannya.
“Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, Indonesia punya bank emas, bullion, yang sekarang sudah mengelola 153 ton emas,” kata Prabowo.
Diketahui, layanan bank emas nasional saat ini dikelola oleh PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Baca juga: Buruan Cek! Harga Emas Antam, Galeri24, dan UBS Kompak Turun Hari Ini (21/7)
Pegadaian, misalnya, total pengelolaan emas perseroan kini telah menembus 145 ton. Angka ini mencakup kepemilikan emas masyarakat berupa tabungan emas yang dititipkan ke Pegadaian.
Portofolio bisnis Pegadaian masih didominasii layanan emas. Saat ini, sekitar 90 persen dari total pengelolaan memang berasal dari bisnis emas, dengan jumlah nasabah mencapai 20 juta orang.
Pertumbuhan signifikan tersebut turut disokong oleh penguatan layanan digital melalui aplikasi TRING yang didukung jaringan lebih dari 4.100 outlet dan 2.000 agen di Tanah Air.
Sementara itu, total pengelolaan emas Bank Syariah Indonesia (BSI) tercatat mencapai 22,5 ton, yang mencakup layanan cicil, gadai, dan tabungan emas.
Angka ini merupakan bagian dari ekosistem bullion bank nasional, di mana BSI bersama Pegadaian total telah menghimpun hingga 177 ton emas. (*)
Editor: Galih Pratama


