Poin Penting
- Nilai impor Indonesia Januari-Juli 2026 mencapai USD163,33 miliar, naik 19,94 persen secara tahunan.
- Impor bahan baku/penolong menjadi penyumbang utama kenaikan dengan nilai USD116,70 miliar.
- Impor migas naik 40,24 persen, sedangkan impor nonmigas tumbuh 16,78 persen.
Jakarta – Nilai impor Indonesia terus meningkat sepanjang Januari-Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total impor mencapai USD163,33 miliar, naik 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD136,18 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kenaikan impor terutama didorong oleh kebutuhan bahan baku dan barang penolong.
“Total nilai impor sepanjang Januari-Juli 2026 naik sebesar 19,94 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai impor tersebut disumbang oleh impor bahan baku/penolong sebesar 14,53 persen,” kata Ateng dalam Rilis BPS, Selasa, 1 September 2026.
Baca juga: Bahlil Kunci Impor Minyak Rusia lewat Kontrak Jangka Panjang
Jika dilihat berdasarkan kelompok barang, impor migas mencatat kenaikan paling tinggi. Nilainya mencapai USD25,77 miliar atau tumbuh 40,24 persen dibandingkan Januari-Juli 2025 yang sebesar USD18,38 miliar.
Sementara itu, impor nonmigas naik 16,78 persen menjadi USD137,56 miliar dari USD117,80 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan penggunaan barang, seluruh golongan impor mencatat kenaikan secara kumulatif. Bahan baku dan barang penolong menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan tersebut.
Nilai impor bahan baku/penolong mencapai USD116,70 miliar, naik 20,42 persen dengan kontribusi 14,53 persen terhadap peningkatan total impor.
“Impor bahan baku/penolong yang naik cukup besar yaitu terjadi pada bahan bakar mineral, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, serta berbagai garam, belerang, batu, dan semen,” jelas Ateng.
Tiongkok hingga ASEAN Jadi Sumber Impor Utama
Kemudian berdasarkan negara dan kawasan asal barang, kenaikan nilai impor terbesar terjadi pada perdagangan dengan Tiongkok, Australia, ASEAN, dan Uni Eropa.
Sebaliknya, nilai impor dari Jepang tercatat mengalami penurunan.
Kenaikan impor dari sejumlah negara tersebut menunjukkan kebutuhan Indonesia terhadap barang dan bahan pendukung aktivitas produksi masih cukup tinggi.
Baca juga: BPS Tindak Lanjuti Data Timbul, Tukang Becak yang Sempat Masuk Desil 9
Secara bulanan maupun tahunan, impor Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan. Pada Juli 2026, nilai impor mencapai USD26,09 miliar atau naik 27,02 persen dibandingkan Juli 2025 yang sebesar USD20,54 miliar.
Adapun nilai impor migas pada Juli 2026 mencapai USD3,77 miliar atau tumbuh 49,91 persen secara tahunan. Sementara itu, impor nonmigas mencapai USD22,33 miliar atau naik 23,83 persen.
“Total nilai impor mengalami peningkatan secara tahunan, utamanya didorong oleh peningkatan nilai impor nonmigas, dengan andil 20,91 persen,” beberAteng. (*)
Editor: Yulian Saputra


