Poin Penting
- Ekspor Indonesia Januari-Juli 2026 mencapai USD167,03 miliar, tumbuh 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
- Industri pengolahan menjadi motor utama ekspor, dengan pertumbuhan 7,16 persen, didorong produk olahan nikel, kimia, aluminium, dan minyak kelapa sawit
- Ekspor nonmigas ke Tiongkok melonjak 18,01 persen menjadi USD40,62 miliar, sementara ekspor Juli 2026 secara tahunan naik 6,05 persen.
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor pada periode Januari-Juli 2026 sebesar USD167,03 miliar atau naik 4,43 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar USD159,95 miliar.
“Total nilai ekspor sepanjang Januari-Juli 2026 mengalami peningkatan sebesar 4,43 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai ekspor disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 5,73 persen,” kata Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, dalam Rilis BPS, Selasa, 1 September 2026.
Jika dirinci, kata Ateng, sepanjang Januari-Juli 2026 nilai ekspor migas tercatat sebesar USD7,02 miliar, turun 10,63 persen, bila dibandingkan dengan tahun lalu pada periode sama sebesar USD7,85 miliar.
Baca juga: Neraca Dagang RI Bangkit, Surplus USD120 Juta per Juli 2026
“Sementara, ekspor non migas naik sebesar 5,12 persen atau secara nilai sebesar USD160,01 miliar, dibandingkan Januari-Juli 2025 sebesar USD152,09 miliar,” jelas Ateng,
Ateng menyebut, kenaikan ekspor non migas ini utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan dengan komoditas nikel dan barang daripadanya, bahan bakar mineral, dan lemak dan minyak hewani/nabati. Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor non migas sepanjang Januari-Juli 2026 yang tumbuh 7,16 persen, dengan andil 5,73 persen terhadap total ekspor.
“Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar, yaitu produk olahan nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, kimia dasar anorganik lainnya, almunium, serta minyak kelapa sawit,” jelasnya.
Sementara berdasarkan negara dan kawasan tujuan utama ekspor, nilai ekspor non migas ke Tiongkok sebesar USD40,62 miliar atau naik 18,01 persen dibandingkan tahun lalu pada periode sama.
“Jika dibandingkan secara kumulatif dengan periode yang sama tahun lalu, pada Januari-Juli 2026 ekspor non migas ke lima negara atau kawasan tujuan mengalami peningkatan, namun negara kawasan tujuan lainnya mengalami penurunan,” imbuhnya.
Baca juga: Inflasi Agustus 2026 Capai 0,21 Persen, Ini Pemicunya
Adapun secara tahunan (year on year/yoy), nilai ekspor Indonesia meningkat 6,05 persen yoy atau USD26,22 miliar di Juli 2026, dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama sebesar USD24,72 miliar.
Ekspor tersebut terdiri dari ekspor migas turun 14,58 persen menjadi USD790 juta, sementara ekspor nonmigas naik sebesar 6,84 persen atau USD25,43 miliar. (*)
Editor: Galih Pratama


