Poin Penting
- MSCI menghapus GOTO dan menurunkan CPIN, berpotensi memicu outflow Rp500 miliar-Rp1 triliun
- Dampak ke IHSG diperkirakan terbatas dan terkonsentrasi pada saham terdampak
- Indonesia perlu memperkuat kredibilitas pasar dan komunikasi dengan MSCI.
Jakarta – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai hasil MSCI Agustus 2026 Index Review memberikan tekanan bagi pasar saham Indonesia.
Hasil riview-nya, MSCI menghapus GOTO dari MSCI Indonesia Investable Market Index dan menurunkan CPIN dari Global Standard Index ke Global Small Cap Index.
Perubahan tersebut berpotensi memicu arus dana keluar secara teknikal, meski dampaknya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan relatif terbatas dan lebih terkonsentrasi pada saham yang terdampak langsung.
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menilai besaran perubahan bobot Indonesia dalam indeks global menjadi salah satu alasan dampak hasil review kali ini diperkirakan tetap terbatas terhadap pasar secara keseluruhan.
Baca juga: Didepak dari Indeks MSCI, GOTO Tegaskan Kinerja Bisnis Tetap Positif
Menurut Wilbert, bobot Indonesia di emerging market diperkirakan hanya turun dari sekitar 0,49 persen menjadi 0,46 persen. Dari sisi arus dana keluar, ia memperkirakan passive outflow sekitar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun yang akan terjadi pada hari efektif rebalancing, yakni setelah perdagangan 31 Agustus.
“Dalam jangka pendek mungkin ada dampak terhadap sentimen karena memang tidak ada penambahan saham dan hanya terjadi pengurangan. Namun, dampaknya terhadap pasar secara keseluruhan diperkirakan minimal dan lebih terkonsentrasi pada saham yang terdampak langsung, seperti CPIN,” kata Wilbert dalam keterangan resmi di Jakarta, 13 Agustus 2026.
Menjelang review MSCI berikutnya pada periode November, Wilbert menilai Indonesia perlu menjaga kredibilitas pasar serta komunikasi antara regulator dan MSCI.
Menurutnya, perbaikan secara gradual pada aspek tersebut dapat membuka peluang keputusan MSCI yang lebih positif dan menjadi katalis tambahan bagi arus modal asing maupun pasar secara keseluruhan.
Sementara Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan keputusan MSCI menghapus GOTO berkaitan dengan rendahnya likuiditas saham setelah bertahan di harga minimum Rp50 sejak Mei.
“Kondisi tersebut dinilai menimbulkan risiko terhadap kemampuan investor pasif dalam mereplikasi indeks,” ujar Rully dalam kesempatan yang sama.
Rully juga menilai dampak utama dari perubahan tersebut bersifat teknikal, terutama melalui potensi passive outflow menjelang implementasi perubahan indeks pada akhir Agustus.
Baca juga: GOTO dan CPIN Keluar dari MSCI, Begini Tanggapan Bos BEI
Namun, tekanan tersebut diperkirakan tidak serta-merta memberikan dampak besar terhadap IHSG secara keseluruhan karena arus dana keluar akan lebih terkonsentrasi pada saham-saham yang mengalami perubahan indeks.
“Tidak adanya penambahan saham Indonesia ke Standard Index juga berarti tidak terdapat offsetting inflow, sejalan dengan pembatasan MSCI yang masih berlaku,” tutup Rully. (*)
Editor: Galih Pratama


