Imbas Perang Rusia-Ukraina, BI Koreksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 3,5%

Imbas Perang Rusia-Ukraina, BI Koreksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 3,5%

Momentum Pemulihan Ekonomi Global Terus Berlanjut
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Ketegangan perang antara Rusia dan Ukraina masih terus berlanjut. Kondisi ini semakin menambah ketidakpastian di perekonomian global yang sudah tinggi.

Melihat hal ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengkoreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi global karena berlanjutnya ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang berdampak pada pelemahan transaksi perdagangan, kenaikan harga komoditas, dan ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah penyebaran Covid-19 yang menurun.

Pemulihan ekonomi global juga diprakirakan terus berlanjut meski lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, disertai ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

“Pertumbuhan ekonomi berbagai negara, seperti Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, dan India diprakirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia merevisi prakiraan pertumbuhan ekonomi global pada 2022 menjadi 3,5% dari sebelumnya sebesar 4,4%,” jelas Perry pada paparannya, Selasa, 19 April 2022.

Sebelumnya, World Bank pada Januari 2022 lalu mengoreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi global menjadi 4,1%, susut -0,2% dari proyeksi Juni 2021. Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) di bulan yang sama juga menurunkan perkiraannya menjadi 4,4% di 2022, turun 0,5% dibandingkan dengan publikasi pada bulan Oktober 2021.

BI juga memperkirakan volume perdagangan dunia lebih rendah sejalan dengan perlambatan ekonomi global dan gangguan rantai pasokan yang masih berlangsung. Harga komoditas global juga tampak mengalami peningkatan, termasuk komoditas energi, pangan, dan logam, sehingga memberikan tekanan pada inflasi global.

Lebih jauh, tingginya ketidakpastian pasar keuangan global juga berada di tengah percepatan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara maju, termasuk AS, sejalan dengan semakin tingginya tekanan inflasi. Hal tersebut mendorong terbatasnya prospek aliran modal asing, khususnya portofolio, dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia. (*)

 

Editor: Rezkiana Nisaputra

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]