Poin Penting
- Aset IIF naik 4,6 persen menjadi Rp15 triliun, sementara komitmen pembiayaan melonjak ke Rp2,5 triliun
- Laba IIF terkoreksi ke Rp38,2 miliar, namun pendapatan nonbunga tumbuh 54,8 persen
- IIF memperkuat pendanaan, memperluas pembiayaan infrastruktur, dan meraih sejumlah penghargaan internasional.
Jakarta – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) mencatatkan kinerja yang tetap solid pada semester I 2026. Di tengah tantangan ekonomi global, perusahaan berhasil membukukan pertumbuhan aset, lonjakan komitmen pembiayaan dan investasi baru, serta peningkatan signifikan pada bisnis advisory.
Hingga Juni 2026, total aset IIF mencapai Rp15 triliun atau tumbuh 4,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, aset produktif yang terdiri dari pinjaman dan surat berharga naik 4,9 persen yoy menjadi Rp13,4 triliun.
Sepanjang semester I 2026, IIF membukukan enam komitmen pembiayaan dan investasi baru senilai Rp2,5 triliun. Nilai tersebut melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan total komitmen sepanjang 2025 yang sebesar Rp799 miliar.
Komitmen pembiayaan baru tersebut tersebar di sejumlah sektor strategis, antara lain kesehatan, pelabuhan, telekomunikasi dan data, serta energi terbarukan.
Baca juga: IIF Dukung Pendidikan Inklusif bagi Pelajar Disabilitas
Dari sisi bisnis advisory, IIF memperoleh sembilan mandat baru dengan total nilai kontrak Rp19 miliar atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Salah satu mandat utama adalah keterlibatan IIF dalam program Waste-to-Energy (WTE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) guna mendukung percepatan pengelolaan sampah terpadu di kawasan perkotaan.
Di sisi kinerja keuangan, pendapatan operasional IIF tercatat sebesar Rp542,7 miliar pada semester I 2026, turun dibandingkan Rp653,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut terutama disebabkan lebih rendahnya pendapatan bunga investasi akibat pelunasan dipercepat oleh sejumlah nasabah pada kuartal I 2026.
Adapun laba bersih tercatat Rp38,2 miliar di Juni 2026, lebih rendah dibandingkan Rp85,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan laba dipengaruhi oleh faktor yang sama dan kebijakan pencadangan yang lebih konservatif.
Meski demikian, pendapatan nonbunga tumbuh 54,8 persen yoy menjadi Rp43 miliar, didorong oleh kontribusi bisnis pembiayaan dan investasi, advisory, serta treasury. Sedangkan pendapatan bunga treasury meningkat 17,5 persen yoy.
Dari sisi permodalan, IIF masih memiliki ruang ekspansi yang kuat. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat sebesar 56,79 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator.
Kualitas aset juga tetap terjaga. Rasio cakupan kerugian pinjaman berada di atas 100 persen, sementara rasio Net Non-Performing Financing (NPF) membaik menjadi 3,49 persen dari sebelumnya 3,61 persen.
Presiden Direktur & Chief Executive Officer IIF, Rizki Pribadi Hasan, menyampaikan, di tengah dinamika ekonomi global, IIF terus menunjukkan ketahanan melalui pertumbuhan portofolio, peningkatan aktivitas pembiayaan dan advisory, serta struktur pendanaan dan permodalan yang semakin kuat.
“Meskipun laba pada semester I lebih rendah, kami optimis dapat terus memperluas bisnis dan meningkatkan kinerja keuangan, didukung oleh permodalan yang kuat, peningkatan layanan, penurunan biaya dana, serta dukungan dan kolaborasi yang kuat dari para pemegang saham dan mitra bisnis,” jelasnya.
Di sisi lain, IIF terus memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Perseroan menilai penerapan standar ESG tidak hanya memenuhi aspek kepatuhan, tetapi juga meningkatkan kualitas proyek, memperkuat manajemen risiko, memperluas akses pendanaan internasional, serta mendukung keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Komitmen tersebut turut mendapat pengakuan internasional. Sepanjang 2026, IIF meraih penghargaan FinanceAsia Awards 2026 untuk kategori The Biggest Sustainable Impact – Nonbank Financial Institution, Asian Banking and Finance (ABF) Corporate and Investment Banking Awards 2026 untuk kategori Innovative Deal of the Year, serta menjadi finalis ASEAN Risk Awards 2026 pada kategori Environmental and Social Management (ESRM) Pioneer Award.
Selain itu, IIF juga menerima tiga penghargaan Asian Development Bank (ADB) Project Implementation Awards 2025 yang diserahkan pada Juli 2026.
Rizki menambahkan, meskipun kondisi operasional masih dinamis dan menantang, kami terus melangkah maju dengan pipeline transaksi yang terus bertumbuh.
“Hanya dalam bulan ini, IIF telah menyelesaikan tiga transaksi baru senilai hampir Rp833 miliar di bidang infrastruktur logistik, energi terbarukan, dan fasilitas pengolahan air,” tambahnya.
Baca juga: Raih Tiga Penghargaan Internasional, IIF Terus Perkuat Kapasitas Pembiayaan Infrastruktur
Untuk mendukung ekspansi bisnis, IIF juga memperkuat kapasitas pendanaan dengan menghimpun dana lebih dari Rp1,3 triliun dari lembaga keuangan domestik maupun internasional.
Perseroan juga telah menyelesaikan tahap pertama penghimpunan dana melalui pasar modal senilai Rp652 miliar, yang terdiri atas penerbitan obligasi Rp432 miliar dan surat berharga perpetual sebesar Rp220 miliar.
Dengan permodalan yang kuat dan pipeline pembiayaan yang terus bertambah, IIF optimistis dapat terus memperluas pembiayaan infrastruktur nasional sekaligus mendukung pengembangan industri keuangan dan pasar modal Indonesia. (*)


