Poin Penting
- IHSG ditutup melemah 3,05 persen dan menekan saham-saham perbankan, termasuk BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.
- Mirae Asset menilai BBCA tetap menjadi saham bank paling menarik di tengah volatilitas pasar.
- Analis menilai saham bank Himbara masih dibayangi sentimen kebijakan pemerintah terkait suku bunga kredit UMKM.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 3,05 persen ke level 5.643,19 pada perdagangan Selasa (30/6). Pelemahan tersebut turut menyeret saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 6,33 persen menjadi Rp5.550 per saham.
Sementara itu, saham bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) juga berada di zona merah. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 3,87 persen ke Rp2.730 per saham, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 2,28 persen ke Rp3.850 per saham, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkoreksi 3,07 persen ke Rp3.160 per saham.
Baca juga: Akhir Juni, IHSG Masih Ditutup Merah pada Level 5.643
Meski demikian, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai BBCA masih menjadi pilihan utama di sektor perbankan di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
“Kita sebenarnya menilai bank ini (BBCA) netral. Kalau misalkan yang top pick kita kalau disuruh pilih sih yang paling kuat sih menurut kita masih BBCA,” ujar Rully saat menjawab pertanyaan Infobanknews di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026.
Saham Himbara Masih Dibayangi Sentimen Kebijakan
Rully menilai prospek saham bank-bank Himbara masih dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kebijakan pemerintah terkait suku bunga kredit untuk segmen UMKM.
“Karena kalau yang himbara ini kayaknya banyak faktor politis. Seperti mungkin interest rate untuk UMKM itu harus dibahas corporate. Nah ini yang mungkin market-nya sentimennya pasti negatif,” imbuhnya.
Baca juga: IHSG Rawan Koreksi, Saham BBCA hingga RAJA Direkomendasikan
Menurutnya, kenaikan suku bunga simpanan berpotensi menekan margin perbankan apabila bank juga diminta menurunkan bunga kredit pada segmen yang memiliki risiko lebih tinggi.
“Pasti kan kalau suku bunga naik yang deposit rate-nya juga ke duluan naikkan. Sementara pada saat yang bersamaan mereka disuruh nurunin suku bunga yang segmen yang risikonya tinggi. Nah ini mungkin yang menurut saya agak berat untuk bank-bank himbara lah,” tutup Rully. (*)
Editor: Yulian Saputra


