Poin Penting
- IHSG diperkirakan bergerak sideways dan volatil karena sentimen global serta domestik belum sepenuhnya kondusif
- Eskalasi konflik AS-Iran dan arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang memengaruhi aliran dana asing dan pergerakan rupiah
- Likuiditas pasar yang masih tipis membuat penguatan IHSG terbatas dan lebih ditopang saham dengan fundamental kuat
Jakarta – Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak sideways dengan kecenderungan volatil di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif.
Hendra menjelaskan, dari sisi global, eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkatkan premi risiko di pasar keuangan, terutama jika berkembang hingga mengganggu pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz.
“Namun sejauh ini respons pasar global relatif terukur karena pelaku pasar masih menilai konflik tersebut belum mengganggu aktivitas ekonomi secara luas,” ujarnya dalam keterangannya yang dikutip pada 13 Juli 2026.
Baca juga: Deretan Saham Pendorong IHSG Sepekan, Ada BBRI, BBCA hingga DCII
Pada saat yang sama, kata Hendra, investor juga cenderung berhati-hati sambil menanti data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi acuan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Dari dalam negeri, likuiditas perdagangan yang masih relatif tipis menunjukkan investor belum memiliki keyakinan kuat untuk meningkatkan eksposur risiko.
“Sehingga penguatan IHSG cenderung terbatas dan lebih banyak ditopang oleh saham-saham yang memiliki katalis fundamental,” jelas Hendra.
Meski demikian, Hendra menilai selama tidak muncul eskalasi geopolitik yang lebih besar maupun kejutan dari kebijakan moneter global, IHSG masih berpeluang bertahan dalam pola konsolidasi sambil menunggu sentimen baru.
Menurutnya, eskalasi geopolitik dan arah kebijakan The Fed menjadi dua faktor utama yang akan menentukan aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketika ketidakpastian global meningkat, investor asing umumnya mengalihkan dana ke aset yang lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.
Baca juga: IHSG Berpotensi Menguat, Analis Rekomendasikan Saham ARCI, BBRI, MINA, dan TAPG
Kondisi tersebut berpotensi menekan nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.
Sebaliknya, apabila data inflasi AS menunjukkan tren yang lebih rendah sehingga membuka peluang penurunan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang, minat investor terhadap aset berisiko berpotensi kembali meningkat dan membuka peluang masuknya kembali dana asing ke pasar Indonesia. (*)
Editor: Galih Pratama


