Poin Penting
- IHSG diproyeksikan bergerak sideways pada kisaran 6.550-6.650, dengan level 6.500 menjadi area yang berpotensi diuji jika indeks menembus 6.550
- Sentimen global masih menjadi tekanan, terutama kenaikan yield obligasi negara-negara besar yang berpotensi mendorong investor keluar dari pasar negara berkembang
- Faktor domestik diharapkan menjadi penopang, mulai dari prospek ekonomi, kebijakan BI, harga komoditas, hingga aksi korporasi emiten.
Jakarta – Phintraco Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak sideways pada perdagangan Kamis, 3 September 2026, di kisaran 6.550-6.650.
“Diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 6.550-6.650. Namun jika breakdown dari level 6.550, diperkirakan akan uji level di 6.500,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 3 September 2026.
Pada perdagangan Rabu (2/9), IHSG ditutup melemah 0,06 persen ke level 6.595,78. Secara teknikal, indeks masih bertahan di atas MA5 dan histogram MACD tetap berada di area positif.
Baca juga: DBS Indonesia Caplok 99 Persen Saham DBS Vickers, Bentuk Konglomerasi Keuangan
Namun, peningkatan volume jual menjadi salah satu sinyal yang perlu dicermati investor.
Phintraco Sekuritas menilai kenaikan yield obligasi pemerintah di sejumlah negara besar turut memengaruhi sentimen pasar global.
Kondisi tersebut terjadi di tengah antisipasi kenaikan suku bunga dan potensi kembali meningkatnya tekanan inflasi, yang mendorong investor global masuk ke mode risk-off.
Dalam kondisi tersebut, investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen investasi yang dianggap memiliki risiko lebih rendah.
“Akibatnya investor berpotensi akan keluar dari emerging market dan lebih memilih investasi pada US-Treasury misalnya yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko yang lebih rendah,” imbuhnya.
Arus keluar dana dari pasar negara berkembang berpotensi memberikan tekanan terhadap sejumlah indikator domestik, mulai dari pelemahan rupiah, kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), hingga meningkatnya biaya modal perusahaan.
Meski demikian, sejumlah faktor domestik masih berpeluang menopang pergerakan pasar. Prospek pertumbuhan ekonomi nasional, kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI), kenaikan harga komoditas, serta aksi korporasi emiten diharapkan dapat mengimbangi tekanan dari sentimen global.
Di sisi lain, pemerintah bersama Komisi XI DPR RI telah menyepakati asumsi dasar ekonomi makro dalam RAPBN 2027.
Baca juga: Gara-gara Ini, BEI Tunda Implementasi Harga Minimum Saham Rp1
Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS, serta yield SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9 persen.
Arah belanja pemerintah juga difokuskan pada investasi, pembangunan infrastruktur, hilirisasi, ketahanan pangan dan energi, pendidikan, serta kesehatan.
Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati kredibilitas fiskal pemerintah, khususnya dalam menjaga pengelolaan defisit anggaran. (*)
Editor: Galih Pratama


