Poin Penting
- Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berpeluang menguat ke level 6.375-6.400 seiring ekspektasi kenaikan BI Rate menjadi 6 persen
- Pemerintah menyiapkan berbagai stimulus, mulai dari optimalisasi likuiditas perbankan hingga insentif fiskal, untuk menjaga stabilitas ekonomi semester II 2026
- Penerbitan Panda Bond dan pengesahan UU PFII diharapkan memperkuat sumber pembiayaan pemerintah serta mendorong arus modal asing masuk ke Indonesia.
Jakarta – Phintraco Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (22/7), dengan target bergerak di kisaran level 6.375 hingga 6.400.
“IHSG berpeluang lanjutkan penguatan menuju level 6.375-6.400 pada perdagangan Rabu (22/7),” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 22 Juli 2026.
Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (21/7), IHSG ditutup menguat 1,74 persen ke level 6.340,02. Penguatan tersebut didorong oleh sikap wait and see pelaku pasar yang menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).
Baca juga: Investor Global Kembali Borong Saham RI, Valuasi Murah Jadi Magnet
Konsensus memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2026 diperkirakan melambat menjadi 9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dari 11,51 persen yoy pada Mei 2026.
Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari langkah pemerintah. Kementerian Keuangan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyiapkan berbagai strategi kebijakan fiskal dan intervensi pasar guna menjaga stabilitas ekonomi pada semester II 2026.
Sejumlah kebijakan yang disiapkan antara lain optimalisasi penempatan uang negara di bank umum untuk menjaga likuiditas perbankan, pemberian diskon biaya transportasi, serta insentif impor.
Pemerintah juga memperkuat daya beli masyarakat melalui upaya menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) dan bahan pangan pokok.
Langkah tersebut diharapkan mampu menopang aktivitas dunia usaha sekaligus menjaga konsumsi masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi tetap terjaga pada paruh kedua tahun ini.
Selain itu, pemerintah dijadwalkan menerbitkan obligasi berdenominasi yuan atau Panda Bond pada 23 Juli 2026 dengan target penghimpunan dana sebesar USD1 miliar.
Baca juga: Mirae Asset Pangkas Target IHSG 2026 jadi 6.800, Ini Saham Pilihannya
Obligasi tersebut telah memperoleh peringkat AAA/Stable dari Lianhe Credit Rating sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan negara.
Sentimen domestik lainnya berasal dari pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) menjadi undang-undang oleh DPR pada 21 Juli 2026.
Kehadiran regulasi tersebut diharapkan dapat memperluas sumber pembiayaan pemerintah sekaligus meningkatkan arus masuk modal (capital inflow). (*)
Editor: Galih Pratama


