Poin Penting
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji level 7.300 secara teknikal.
- Pelemahan rupiah ke Rp17.286 per dolar AS serta harga minyak tinggi menjadi sentimen negatif utama pasar.
- Likuiditas domestik meningkat (M2 tumbuh 9,7% yoy) didorong momentum Hari Raya Idul Fitri.
Jakarta – Manajemen Phintraco Sekuritas menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara teknikal berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan, Jumat (24/4).
“Diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dan menutup gap down di 7.308 serta menguji level 7.300,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.
IHSG pada perdagangan sebelumnya, Kamis (23/4), ditutup melemah 2,16 persen ke level 7.378,61.
Baca juga: IHSG Diproyeksi ke 7.500 di Akhir 2026, Capital Outflow Masih Membayangi
Sentimen negatif antara lain dipicu pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.300 per dolar AS dan ditutup di level Rp17.286 per dolar AS di pasar spot.
“Ini menjadi level penutupan terburuk bagi rupiah sepanjang masa serta merupakan pelemahan paling dalam di Asia. Pelemahan rupiah yang relatif cepat ini di luar estimasi pasar sebelumnya,” imbuhnya.
Harga Minyak Tinggi Picu Kekhawatiran Inflasi
Selain itu, berlarutnya penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak bertahan tinggi. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi inflasi serta pelebaran defisit anggaran.
Baca juga: Anggaran Terbatas, Kemendagri Dorong Pemda Manfaatkan Pinjaman Daerah
Adapun dari domestik, data uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 9,7 persen yoy menjadi Rp10,35 triliun pada Maret 2026, berakselerasi dari pertumbuhan sebesar 8,7 persen yoy pada Februari 2026.
Kenaikan ini didorong oleh peningkatan uang beredar M1 sebesar 14,4 persen yoy dan uang kuasi sebesar 5,2 persen yoy.
Perkembangan M2 ini juga dipengaruhi tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit. Kenaikan likuiditas ini sejalan dengan momentum Hari Raya Idul Fitri pada Maret 2026 yang mendorong aktivitas transaksi, investasi, dan konsumsi. (*)
Editor: Yulian Saputra








