Poin Penting
- Indonesia turun ke peringkat 13 dalam FDI Confidence Index 2026.
- Thailand dan Malaysia naik ke 10 besar pasar berkembang.
- Optimisme investor terhadap Indonesia tetap tinggi di tengah ketidakpastian global.
Jakarta – Sejak pertama kali diluncurkan pada 1998, pasar-pasar masuk dalam peringkat Kearney FDI Confidence Index terbukti berkorelasi erat dengan destinasi utama arus masuk Foreign Direct Investment (FDI) global pada tahun-tahun berikutnya.
Responden dalam Kearney FDI Index 2026 mencakup para C-level dari perusahaan dengan pendapatan tahunan sebesar USD500 juta atau lebih, yang berkantor pusat di 30 pasar berbeda serta mewakili berbagai sektor industri.
Baca juga: ASEAN Perkuat Stabilitas Ekonomi di Tengah Tekanan Global, Ini Strateginya
Pada 2026, sepuluh negara dari kawasan Asia Pasifik masuk dalam FDI Confidence Index, menjadikannya kawasan dengan representasi tertinggi dibandingkan dengan wilayah lain. Amerika Serikat (AS) menempati peringkat pertama dalam indeks tersebut, diikuti Kanada, Jepang, dan Tiongkok, sementara Singapura berada di posisi ke-8 secara global.
Di sisi lain, arus masuk FDI ke pasar ASEAN mencapai rekor sebesar USD225 miliar pada 2024.
“Arus modal terus mengalir, namun perusahaan kini semakin selektif dalam menentukan tujuan investasi, seiring mereka mempertimbangkan kapabilitas teknologi, risiko geopolitik, serta semakin besarnya pengaruh kebijakan industri,” ujar Partner dan Managing Director di Kearney Global Business Policy Council, Erik R. Peterson, dalam keterangan resmi, Kamis, 23 April 2026.
Thailand dan Malaysia Naik, RI Turun
Dalam peringkat pasar berkembang 2026, Thailand berhasil meningkatkan posisinya dari peringkat ke-10 menjadi ke-6, sementara Malaysia naik dari peringkat ke-11 ke posisi ke-7.
Sementara, Indonesia berada di peringkat ke-13, turun satu posisi dibandingkan tahun sebelumnya.
Faktor-faktor pendorong daya tarik FDI di negara-negara Asia Tenggara antara lain adalah peningkatan kemudahan berusaha, kualitas tenaga kerja, serta kinerja ekonomi. Thailand, misalnya, dikenal memiliki tenaga kerja terampil di sektor manufaktur seperti otomotif, pengolahan makanan, dan industri jasa.
Baca juga: Ketua Perbanas Ungkap Banyak Negara ASEAN Ingin Miliki Bisnis Bank di Indonesia
Sementara tenaga kerja di Malaysia lebih terkonsentrasi pada industri bernilai tambah tinggi seperti semikonduktor, teknologi, dan jasa. Adapun daya tarik utama Indonesia bagi FDI didukung oleh besarnya permintaan domestik serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah.
Optimisme Investor terhadap RI Tetap Tinggi
Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan ketidakpastian global, sebanyak 87 persen responden survei tetap optimistis atau bahkan lebih optimistis terhadap Indonesia.
Optimisme ini didorong oleh sejumlah faktor utama yang menjadi daya tarik investasi Indonesia. Investor menyoroti talenta dan keterampilan tenaga kerja (28 persen) sebagai faktor utama.
Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia – hampir 288 juta jiwa – Indonesia menawarkan tenaga kerja dan pasar domestik yang sangat besar, memberikan keunggulan demografis yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Baca juga: Bonus Demografi Telah Menggeser Pola Konsumsi Masyarakat
Selain itu, investor juga menyoroti sumber daya alam (28 persen) sebagai faktor utama lainnya. Sebagai produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia terus memanfaatkan kekuatan sumber dayanya. Pada 2025, sektor logam dasar mencatatkan realisasi FDI tertinggi sebesar USD14,6 miliar, diikuti sektor pertambangan USD4,7 miliar.
Faktor-faktor tersebut kemudian diikuti oleh kinerja ekonomi (27 persen), kemudahan berusaha (25 persen), inovasi teknologi (21 persen), serta tata kelola yang transparan dan tingkat korupsi yang rendah (19 persen).
Realisasi Investasi Tetap Solid
Hal ini memperkuat tren kinerja positif investasi di Indonesia yang solid pada kuartal I 2026 dengan realisasi mencapai Rp498,79 triliun, setara 100,36 persen dari target pemerintah dan tumbuh 7,22 persen secara tahunan.
Baca juga: Indonesia Salip Singapura jadi Hub Data Center, Ini Faktor Pendorongnya
Komposisi investasi antara FDI dan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) relatif seimbang, masing-masing sekitar 50 persen, dengan kontribusi terbesar berasal dari Singapura (USD4,6 miliar), Hong Kong (USD2,7 miliar), Tiongkok (USD2,2 miliar), Amerika Serikat (USD1,7 miliar), dan Jepang (USD1 miliar).
“Indonesia telah menerapkan strategi terkoordinasi yang menggabungkan kebijakan industri, reformasi regulasi, insentif yang terarah, serta target investasi untuk memperdalam hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah,” ujar President Director Kearney Indonesia, Shirley Santoso.
Tantangan dan Rekomendasi
Negara-negara seperti China, Jepang, dan Singapura terus menopang kepercayaan investor melalui stabilitas kebijakan dan kerangka kelembagaan yang kuat, sementara ekonomi-ekonomi Asia Tenggara yang sedang berkembang seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia berhasil menarik arus diversifikasi rantai pasok dalam strategi “China+1”.
Shirley menilai Indonesia perlu memperkuat kepastian regulasi, mempercepat transisi energi, serta memperdalam kerja sama regional, disertai reformasi struktural yang berkelanjutan.
“Indonesia berada pada titik penting dalam landscape ini. Untuk mempertahankan dan meningkatkan daya tariknya, Indonesia perlu mencontoh negara-negara di sekitarnya,” tukasnya. (*) Steven Widjaja








