Poin Penting
- IHSG pada Kamis (21/5/2026) tercatat melemah 29,51 persen secara year-to-date dari level tertingginya, menandai tekanan signifikan di pasar saham domestik
- BEI menegaskan bahwa investasi di pasar modal bersifat jangka panjang, serta tetap optimistis terhadap penguatan fundamental ekonomi dan perbaikan iklim investasi ke depan
- Tekanan IHSG dipengaruhi sikap wait and see investor terhadap kebijakan ekspor pemerintah serta menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal I yang dinilai krusial bagi sentimen pasar.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026 tercatat telah terkoreksi 29,51 persen secara year-to-date (ytd) dari level tertingginya di posisi 9.174,47.
Hari ini IHSG ditutup dengan melanjutkan pelemahannya ke posisi 6.094,94 atau merosot 3,54 persen dari level 6.318,50.
Menanggapi kondisi tersebut, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik kembali mengingatkan pesan dari DPR dan Danantara bahwa investasi di pasar modal bersifat jangka panjang.
Baca juga: Kenaikan BI Rate Tekan IHSG, Saham Bank Jumbo Tetap Defensif
“Kunjungan dari DPR, Danantara kesini kan juga sudah disampaikan pesan bahwa investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang dan kita sama-sama meyakini bahwa fundamental ekonomi ke depan akan makin baik,” ucap Jeffrey kepada media di Jakarta, 21 Mei 2026.
Jeffrey juga menyatakan optimisme terhadap prospek pasar saham Indonesia ke depan, seiring sinyal perbaikan iklim investasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait percepatan perizinan usaha.
“Tentu itu akan memberikan efek positif kepada perekonomian dan nanti tentunya implikasinya kepada pasar modal dalam waktu jangka menengah panjang kita. Jadi kami sih positif,” imbuhnya.
Baca juga: BEI Catat Jumlah Saham Syariah Melonjak 184 Persen, Kapitalisasi Tembus USD399 Miliar
Sementara itu, Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG masih dipengaruhi sikap wait and see pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah terkait pengetatan aturan ekspor sejumlah komoditas utama, termasuk minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy, yang mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir BUMN.
Selain itu, kehati-hatian investor juga meningkat menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal I pada Jumat (22/5), setelah pada kuartal sebelumnya Indonesia mencatat defisit akibat melebarnya defisit perdagangan minyak. (*)
Editor: Galih Pratama


