Poin Penting
- IBM meluncurkan IBM Bob 2.0, platform pengembangan perangkat lunak berbasis agentic AI.
- Platform ini dirancang untuk mengotomatisasi berbagai tahapan pengembangan perangkat lunak dan meningkatkan produktivitas developer.
- IBM Bob 2.0 dapat digunakan oleh berbagai sektor industri dengan tetap mempertahankan tata kelola dan kontrol perusahaan.
Jakarta – IBM resmi memperkenalkan IBM Bob 2.0, platform pengembangan berbasis agentic AI yang dirancang untuk membantu developer mempercepat seluruh siklus pengembangan perangkat lunak.
Platform tersebut mengandalkan teknologi AI untuk mengotomatisasi pekerjaan kompleks, sehingga developer dapat lebih fokus pada inovasi dan penciptaan nilai bisnis.
IBM menyebut IBM Bob dapat memangkas waktu migrasi dari hitungan bulan menjadi hitungan hari. Teknologi ini juga diklaim mampu mempercepat pencapaian hasil bisnis serta meningkatkan produktivitas hingga 45 persen.
Peluncuran IBM Bob 2.0 dilakukan di tengah meningkatnya peran developer dalam mendorong transformasi digital Indonesia. Nilai ekonomi digital Indonesia disebut mendekati 130 miliar dolar AS dan diperkirakan membutuhkan sedikitnya 9 juta talenta digital pada 2030.
Baca juga: IBM: Sektor Keuangan Paling Terpukul Kebocoran Data, Kerugian Capai USD6,53 Juta
IBM Bob 2.0 Andalkan Arsitektur Multi-Agen
Managing Director IBM Indonesia Juvanus Tjandra mengatakan IBM Bob dirancang untuk memperkuat kemampuan developer melalui akses terhadap teknologi AI, pembelajaran praktis, dan ekosistem kolaboratif.
“IBM Bob dirancang untuk memberikan developer akses terhadap teknologi AI, pembelajaran praktis, dan ekosistem kolaboratif yang mendorong inovasi. Bersama pemerintah dan mitra industri, IBM berkomitmen untuk membantu developer TI Indonesia memimpin babak baru ekonomi AI,” ujar Juvanus saat acara IBM Indonesia Builders Day 2026 di Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.
Juvanus menjelaskan, IBM Bob 2.0 dilengkapi arsitektur multi-agen yang memungkinkan developer mengotomatisasi tugas kompleks dan mempercepat proses delivery perangkat lunak.
Platform tersebut juga dirancang agar dapat diterapkan oleh berbagai sektor industri di Indonesia, dengan tetap mempertahankan tata kelola dan kontrol yang dibutuhkan perusahaan.
“Agentic Software Development Lifecycle (SDLC) IBM memungkinkan agen berbasis AI untuk mendukung developer TI di berbagai tahapan pengembangan perangkat lunak, mulai dari desain dan coding hingga pengujian, keamanan, dan deployment,” ucap Juvanus.
Baca juga: Survei IBM: 65 Persen CEO di Indonesia Percaya AI untuk Ambil Keputusan Strategis
Bagi perusahaan yang beroperasi dalam lingkungan TI hybrid dan kompleks, pendekatan ini, dinilainya, dapat membantu meningkatkan produktivitas, mengurangi kompleksitas, serta mempercepat proses pengembangan dan penerapan perangkat lunak.
Dorong Produktivitas dan Keterampilan Developer
Dalam IBM Indonesia Builders Day 2026, IBM juga mendemonstrasikan kapabilitas Agentic AI SDLC. Teknologi tersebut diperkenalkan untuk membantu developer dan engineer meningkatkan keterampilan, mempercepat inovasi, serta mengoptimalkan proses pengembangan perangkat lunak.
Peserta juga dapat mengeksplorasi kerangka kerja Agentic AI SDLC dan mencoba teknologi tersebut melalui TechZone serta hands-on coaching clinics.
Menurut Juvanus, pengembangan teknologi AI perlu berjalan beriringan dengan penguatan talenta digital. Kolaborasi antara industri, pemerintah, dan mitra teknologi menjadi salah satu kunci agar Indonesia dapat memanfaatkan potensi ekonomi berbasis AI.
“Bersama para mitra, IBM membantu membekali talenta Indonesia dengan keterampilan, teknologi, dan peluang yang dibutuhkan untuk menciptakan dampak berkelanjutan dan membuka potensi penuh ekonomi AI,” tandas Juvanus. (*) Steven Widjaja


