Poin Penting
- Direktur Utama Samir Handy Juniandri menilai masa depan industri pindar bergantung pada tata kelola yang kuat dan perlindungan konsumen untuk menjaga pertumbuhan yang sehat
- Berbekal pengalaman di multifinance, BPR, dan fintech, Handy membawa SAMIR fokus pada pertumbuhan berkelanjutan, bukan sekadar mengejar pangsa pasar
- Menurut Handy, kepercayaan, inovasi teknologi, dan kepatuhan terhadap regulator menjadi fondasi utama agar industri pindar terus berkembang dan semakin dipercaya masyarakat.
Jakarta – Tepat pukul 11.00 WIB, pintu ruang rapat PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) di lantai 20 Mayapada Tower I, Jakarta terbuka. Dari balik jendela kaca yang menghadap hamparan gedung-gedung ibu kota, suasana siang itu terasa tenang.
Di ruangan tersebut, tim Infobanknews yang diwakili Galih Pratama dan Muhammad Zulfikar mendapat kesempatan berbincang langsung dengan Handy Juniandri, Direktur Utama Samir dalam sebuah sesi wawancara eksklusif.
Pria yang gemar olahraga sekaligus bermain musik ini berbagi cerita mengenai perjalanan karier, filosofi kepemimpinan, strategi bisnis, hingga pandangannya terhadap masa depan industri pendanaan daring (pindar).
Perjalanan karier Handy menunjukkan bagaimana pengalaman lintas industri keuangan membentuk gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tata kelola dan keberlanjutan bisnis.
Memulai karier di perusahaan multifinance pada 2004, ia kemudian menapaki berbagai posisi strategis di industri BPR, platform asuransi, hingga peer-to-peer (P2P) lending sebelum dipercaya menjadi Direktur Utama Samir pada Mei 2026.
Bagi bapak tiga anak ini, industri pindar bukan sekadar mengejar pertumbuhan penyaluran pembiayaan. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis, mitigasi risiko, kepatuhan terhadap regulator, dan perlindungan konsumen.
Baca juga: Pindar Samir Salurkan Pembiayaan Rp2,3 Triliun di Semester I 2026, Tumbuh 84 Persen

Berikut Petikan Wawancara Infobanknews Bersama Handy Juniandri
Bagaimana Perjalanan Karier Anda hingga Dipercaya Memimpin Samir?
Saya memulai karier di industri keuangan pada 2004 di perusahaan multifinance, tepatnya di PT BFI Finance Indonesia hingga 2014. Jabatan terakhir kala itu Business Unit Manager.
Setelah itu, saya melanjutkan karier di PT Wahana Mitra Multiartha (2014-2015), kemudian masuk ke industri perbankan, khususnya Bank Perekonomian Rakyat (BPR) sebagai Area Manager di BPR Kredit Mandiri Indonesia (2014-2019).
Pada 2019, Samir mulai berdiri. Kala itu, saya dipercaya sebagai Komisaris Samir sekaligus komisaris di BPR lainnya.
Namun, sejak 13 Mei 2026, saya resmi menjabat sebagai Direktur Utama. Perjalanan tersebut memberi pengalaman saya dari sisi industri pembiayaan, perbankan, hingga fintech.
Apa Filosofi yang Membawa Anda hingga Menjadi Direktur Utama?
Saya memulai (karier) semuanya dari nol. Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama Bandung, saya sempat gagal masuk di salah satu bank daerah ternama di Jawa Barat dan akhirnya memulai karier di perusahaan multifinance.
Dari sana (perusahaan multifinance) saya belajar bahwa pendidikan memang penting, tetapi integritas dan tanggung jawab jauh lebih menentukan.
Kalau bicara soal pendidikan mungkin saya tidak lebih baik. Saya belum S2 ataupun S3. Saya hanya S1. Tapi yang saya pegang teguh dalam bekerja adalah integritas dan tanggung jawab.
Karena menurut saya, seseorang boleh memiliki pendidikan tinggi, tetapi tanpa integritas dan tanggung jawab semuanya tidak akan berarti.
Apa Tantangan Terbesar Memimpin Perusahaan Pindar Saat Ini?
Tantangan utamanya adalah menjaga kesinambungan antara pertumbuhan tetap sehat dan kehati-hatian di di tengah kondisi ekonomi saat ini. Ditambah lagi maraknya kasus penipuan online, pinjaman online (pinjol) illegal, dan meningkatnya risiko fraud juga menjadi pekerjaan rumah bersama industri pindar.
Di satu sisi masyarakat membutuhkan akses pembiayaan yang cepat, tetapi di sisi lain perusahaan harus memastikan kualitas penyaluran pembiayaan tetap terjaga, risiko terkendali, mematuhi ketentuan regulator, dan tetap mengedepankan perlindungan konsumen.
Karena bagi saya, yang terpenting dalam menjalani bisnis pindar adalah mengenai perlindungan konsumen. Ini menjadi kunci utama.
Samir pun selalu berinisiatif untuk rutin menggelar edukasi agar masyarakat melek terhadap pindar, termasuk risiko-risikonya. Menurut saya, literasi menjadi top issue, makanya kita terus tingkatkan agar pemahaman industri pindar bisa dipahami dengan baik oleh masyarakat.
Seperti Apa Gaya Kepemimpinan atau Leadership yang Anda Terapkan di Samir?
Saya menerapkan gaya kepemimpinan di perusahaan ini dengan konsep terbuka dan kolaboratif. Di Samir terdapat 28 departemen, tiga cabang, dan sekitar 800 karyawan. Karena itu komunikasi lintas fungsi menjadi sangat penting.
Saya selalu mendorong setiap tim menyampaikan ide dan solusi. Nilai yang saya tekankan adalah integritas, disiplin, dan tanggung jawab.
Saya selalu memberikan kesempatan kepada semua karyawan di sini untuk menyampaikan ide dan kontribusinya. Jadi semua berhak untuk menyampaikan ide, semua juga berhak untuk berkontribusi.
Dan yang paling penting lagi bagi saya, pemimpin bukan sekadar hanya memberi arahan, tetapi juga hadir membawa solusi. Untuk pengarahan saya pikir, setiap pemimpin pasti mahir dalam memberikan pengarahan kepada karyawannya, tapi kalau solusi belum tentu.
Di Samir, saya juga menerapkan prinsip work-life balance. Setelah pukul 18.00, kami sebisa mungkin tidak lagi membahas pekerjaan. Saya percaya produktivitas terbaik lahir dari keseimbangan hidup yang sehat.
Bagaimana Anda Melihat Prospek Industri Pindar?
Potensinya masih sangat besar karena kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan cepat terus meningkat, terutama bagi segmen yang belum terlayani lembaga keuangan konvensional.
Namun di tengah kondisi ekonomi saat ini, kami juga selektif dalam memilih calon borrower. Kita tidak bisa sembarangan dalam menyalurkan pembiayaan.
Oleh karenanya, perusahaan harus memperkuat tata kelola yang baik untuk memitigasinya. Agar lebih berkembang lagi, tentu harus memanfaatkan teknologi secara optimal, dan selalu mengedepankan perlindungan konsumen agar industri berkembang lebih sehat.
Menurut saya, dengan tiga hal penting tersebut, perusahaan pindar diyakini akan mampu berkembang dengan sehat, sehingga bisa menangkap potensi industri pindar Tanah Air.
Apa Arah Kebijakan yang Menjadi Fokus Anda Saat Ini?
Saya mungkin tidak terlalu muluk-muluk bicara mengenai arah dan kebijakan bagaimana Samir ke depannya. Target saya sederhana, yaitu membangun perusahaan yang tumbuh sehat, berkelanjutan, dan dipercaya masyarakat.
Karena itu, kami terus memperkuat tata kelola perusahaan, meningkatkan kualitas layanan, sekaligus memanfaatkan teknologi agar operasional menjadi lebih efektif dan efisien. Itulah yang menjadi arah kebijakan saya dalam memimpin Samir.
Samir Mencatat Pertumbuhan Pembiayaan Melesat pada Semester I 2026. Apa Kuncinya?
Hingga semester I 2026 penyaluran pembiayaan kami telah mencapai Rp2,3 triliun. Kalau kita compare dengan semester yang sama tahun 2024, kita tumbuh hampir 86 persen. Jumlah peminjam juga meningkat sekitar 13 persen.
Pertumbuhan tersebut didukung ekspansi yang semakin merata di luar Pulau Jawa, khususnya Sumatra, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku. Meski Jawa masih mendominasi sekitar 69 persen, kontribusi daerah lain terus meningkat.
Secara demografi, penyaluran pembiayaan Samir memang masih didominasi di pulau Jawa. Jawa 69 persen. Disusul Sumatra 17 persen dan sisanya adalah Sulawesi, Kalimantan, Bali, Indonesia Tenggara, Papua, dan Maluku. Untuk pembiayaannya kita mengarah kepada sektor konsumtif sekitar 70 persen, sisanya sektor produktif.
Apa Strategi Menjaga Kualitas Pembiayaan di Tengah Ekspansi?
Tidak ada jurus khusus. Selain pertumbuhan bisnis, kita juga memantau kualitas pembiayaan. Karena itu menjadi dasar paling penting dalam bisnis pindar.
Disiplin mengelola risiko menjadi penting. Makanya, semua departemen menerapkan Risk Control Self Assessment (RCSA) dan melakukan evaluasi bisnis secara berkala. Hampir setiap minggu saya kumpulkan karyawan lintas divisi untuk melakukan evaluasi kinerja dan mencari solusinya.
Apakah bisnis kita jalan berkesinambungan atau bermasalah, sehingga kita bisa dapatkan solusinya seperti apa. Itu yang saya jalankan.
Dan tak kalah penting, kami terus meningkatkan kompetensi karyawan melalui berbagai sertifikasi. Dengan begitu, pertumbuhan dapat berjalan seiring dengan kualitas portofolio.
Bagaimana Kondisi Tingkat Wanprestasi (TWP90) Samir?
TWP90 kami tetap terjaga di bawah 3 persen (23 Juli 2026), masih jauh di bawah ambang batas regulator yang sebesar 5 persen.
Hal itu dicapai melalui proses mitigasi risiko sejak awal. Salah satunya dari verifikasi Know Your Customer (KYC) dan credit scoring, sehingga mendapatkan hasil analisa apakah borrower layak menerima pinjaman atau tidak.
Yang kedua adalah pengelolaan portfolio. Bagaimana kita pastikan proses penagihan dilakukan berkesinambungan. Sejak awal jatuh tempo hingga terlambat ataupun setelah terlambat pun, ada mitigasi-mitigasi yang kita lakukan.
Kami juga memanfaatkan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), untuk memperkuat mitigasi risiko. Ini semua adalah rangkaian bisnis. Sudah sangat berkesinambungan dalam menjaga TWP90.

Bagaimana Posisi Samir di Industri Pindar?
Kalau bicara soal positioning, Samir bisa dibilang bukan perusahaan yang number one, number two, atau number three di industri pindar.
Saya melihat saat ini di industri pindar juga memang belum ada klasifikasi nomor satu siapa, belum ada. Lain halnya dengan bank yang memang sudah ada klasifikasinya berdasarkan Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI).
Saya akui, dari 94 pindar yang memiliki izin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), posisi Samir mungkin ada di tier kedua. Saya tidak malu untuk menyampaikan ini.
Namun kami menegaskan bahwa Samir tidak berorientasi menjadi nomor satu atau nomor dua dari sisi ukuran bisnis. Fokus kami adalah membangun perusahaan yang sehat dan berkelanjutan.
Selain itu, bagi saya bukan masalah pangsa pasar, tapi bagaimana kami sebagai pindar mempunyai layanan lengkap, bertanggung jawab, serta mampu memenuhi ketentuan OJK. Sehingga masyarakat akan percaya kepada Samir.
Apa Target Samir hingga Akhir 2026?
Target penyaluran pembiayaan kami hingga akhir tahun ini sebesar Rp6 triliun dengan pertumbuhan sekitar 60 persen secara tahunan.
Untuk merealisasikan target tersebut, kami akan terus berinovasi di semester II 2026. Inovasi ini tak tidak terbatas. Kita akan kembangkan terus layanan digital. Seperti pengembangan sistem maupun aplikasi Samir.
Teranyar, kita juga baru saja bekerja sama dengan perusahaan AI untuk mengenjot pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat mitigasi ke depan.
Intinya, menurut saya inovasi tidak harus besar dan canggih. Tapi bagaimana setiap perubahan harus bisa memberikan nilai baik dan nilai tambah bagi para nasabah. Karena percuma juga kalau kita bikin teknologi besar, calon nasabah tidak bisa menggunakan, kita juga tidak bisa menggunakannya. (*)


