Poin Penting
- Google memproyeksikan AI generatif dapat menambah nilai ekonomi sektor ekonomi kreatif hingga Rp66 triliun per tahun.
- Pekerja kreatif berpotensi menghemat 390 jam kerja per tahun melalui pemanfaatan AI generatif.
- AI diperkirakan mendorong ekspor kreatif hingga Rp6,7 triliun dan memperluas pasar kreator Indonesia.
Jakarta – Google memproyeksikan kecerdasan artifisial (AI) generatif mampu menambah nilai ekonomi sektor ekonomi kreatif (ekraf) Indonesia hingga Rp66 triliun per tahun.
Potensi itu dinilai lahir dari peningkatan produktivitas pekerja kreatif dan perluasan pasar ke tingkat global.
Proyeksi tersebut tertuang dalam AI Economic Opportunity Report 2026 yang disusun Public First. Laporan itu dipaparkan Google dalam peluncuran resminya di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Temuan tersebut memperlihatkan AI tidak lagi sekadar teknologi pendukung. AI mulai menjadi mesin pertumbuhan baru bagi industri media dan ekonomi kreatif nasional.
Baca juga: Nilai Dagang RI-China Makin Moncer, Ini Sektor Paling Diminati
Google: AI Dorong Produktivitas Pekerja Kreatif
Country Director Google Indonesia Veronica Utami mengatakan, adopsi AI generatif di sektor media memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Dampaknya diperkirakan mencapai Rp66 triliun setiap tahun.
“Temuan terbaru dari laporan AI Economy Opportunity Report, yang kami bagikan hari ini menunjukkan bahwa adopsi AI generatif di sektor media saja sudah punya potensi menghasilkan Rp66 triliun per tahun,” kata Veronica, dikutip Antara.
Laporan tersebut juga memperkirakan pekerja kreatif dapat menghemat rata-rata 390 jam kerja setiap tahun. Angka itu setara sekitar 50 hari kerja.
Waktu yang dihemat dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan ide dan menyusun cerita. Ruang kreatif pun menjadi lebih besar dibanding sebelumnya.
Google Nilai AI Perluas Pasar Kreator Indonesia
Selain meningkatkan efisiensi, Google menilai AI generatif membuka peluang pasar yang lebih luas. Fitur penerjemahan otomatis, subtitle, dan sulih suara membantu karya kreator menjangkau audiens internasional.
Pemanfaatan teknologi tersebut diproyeksikan menghasilkan nilai ekspor kreatif hingga Rp6,7 triliun setiap tahun. Peluang itu memperkuat daya saing konten Indonesia di pasar global.
Laporan yang sama menunjukkan adopsi AI di Indonesia tergolong tinggi. Sebanyak 63 persen pengguna AI berada pada tingkat menengah hingga mahir.
Persentase tersebut melampaui Amerika Serikat yang mencapai 46 persen. Temuan itu menunjukkan kesiapan masyarakat Indonesia memanfaatkan AI semakin kuat.
Baca juga: Purbaya Pastikan Penyelesaian Utang Whoosh Tak Bebani APBN
Ekosistem Digital Jadi Penggerak Pertumbuhan
Google juga mencatat ekosistem kreatif YouTube menyumbang lebih dari Rp8,4 triliun terhadap PDB Indonesia sepanjang 2025. Platform itu mendukung lebih dari 190.000 lapangan kerja penuh waktu.
Sebanyak 81 persen kreator Indonesia memanfaatkan YouTube untuk memperkenalkan budaya, musik, dan karya kepada pasar global. Hal itu memperlihatkan besarnya kontribusi ekonomi digital berbasis konten.
Google menyatakan akan terus memperkuat ekosistem AI di Indonesia melalui penyediaan teknologi, peningkatan keterampilan, dan penguatan keamanan platform. Langkah itu diharapkan mempercepat pertumbuhan ekonomi digital nasional.
“Saat kita memasuki era AI, sinergi antara teknologi dan kreativitas manusia menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya. Untuk mewujudkan potensi secara maksimal, kita harus bekerja sama secara kolaboratif guna memastikan ekosistem digital kita tetap terbuka, inklusif, dan aman bagi semua orang,” ujar Veronica.
Proyeksi Google menunjukkan AI generatif berpotensi menjadi penggerak baru sektor ekonomi kreatif. Teknologi tersebut dinilai mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing Indonesia. (*)
Editor: Galih Pratama


