Poin Penting
- Fitch menilai perusahaan Indonesia menghadapi peningkatan risiko akibat pelemahan rupiah, suku bunga tinggi, dan ketidakpastian regulasi
- Meski tekanan ekonomi meningkat, mayoritas perusahaan yang diperingkat Fitch masih memiliki profil kredit yang kuat
- Perusahaan dengan diversifikasi pendapatan, daya tawar kuat, dan struktur modal konservatif dinilai lebih mampu menghadapi tantangan.
Jakarta – Fitch Ratings, lembaga pemeringkat global menilai perusahaan-perusahaan di Indonesia menghadapi tekanan yang semakin besar akibat memburuknya kondisi ekonomi makro serta meningkatnya ketidakpastian regulasi.
Meski demikian, mayoritas perusahaan yang diperingkat Fitch masih memiliki profil kredit yang cukup kuat untuk menyerap berbagai tekanan tersebut.
Dalam laporan bertajuk Indonesia Credit Trends: June 2026 yang dikutip, Selasa (30/6), Fitch menyebutkan bahwa ruang gerak kredit sebagian besar emiten Indonesia masih memadai, meski tantangan diperkirakan akan meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Fitch menjelaskan, kenaikan harga bahan bakar non-subsidi, suku bunga yang lebih tinggi, serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko, terutama bagi sektor-sektor yang bergantung pada daya beli masyarakat seperti otomotif dan properti.
“Pelemahan nilai tukar yang berkepanjangan dapat menekan margin emiten yang bergantung pada impor dengan kemampuan terbatas untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen,” tulis Fitch.
Baca juga: Menyambut Perang Bunga di Tengah Anjloknya Rupiah dan Dahaga Likuiditas
Di sisi lain, kebijakan moneter yang semakin ketat juga dinilai akan memberikan tekanan terhadap ekspansi korporasi. Seiring pelemahan rupiah, Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin menjadi 5,75 persen hanya dalam waktu satu bulan.
Menurut Fitch, kenaikan suku bunga tersebut berpotensi meningkatkan biaya pendanaan sekaligus mengurangi fleksibilitas perusahaan dalam memperoleh pembiayaan baru.
“Suku bunga kebijakan yang lebih tinggi kemungkinan akan meningkatkan biaya pembiayaan dan membatasi fleksibilitas bagi emiten yang ingin berutang,” jelas Fitch.
Selain faktor makroekonomi, Fitch juga menyoroti meningkatnya ketidakpastian regulasi, terutama pada sektor-sektor strategis berbasis sumber daya alam.
“Kami memperkirakan bahwa regulasi yang terus berkembang akan tetap menjadi risiko bagi perusahaan di sektor-sektor strategis, seperti sumber daya alam,” ungkap Fitch.
Baca juga: Purbaya Guyur Himbara Rp400 Triliun, Kredit Ditargetkan Tumbuh 15 Persen
Meski demikian, Fitch menilai tidak semua perusahaan akan terdampak secara signifikan. Perusahaan yang memiliki posisi pasar kuat, permintaan produk yang stabil, sumber pendapatan yang terdiversifikasi, serta struktur permodalan yang konservatif dinilai akan lebih mampu menghadapi tekanan ekonomi maupun perubahan regulasi.
Laporan tersebut mengindikasikan bahwa ketahanan fundamental perusahaan akan menjadi faktor utama dalam menjaga kualitas kredit di tengah meningkatnya tantangan ekonomi domestik dan global. (*)


