Poin Penting
- Industri facility management semakin strategis dalam mendukung efisiensi, keberlanjutan, dan pengalaman pengguna gedung.
- Digitalisasi dan AI mendorong pengelolaan fasilitas berbasis data secara real time dan lebih responsif.
- Penerapan ESG, penguatan SDM, serta sertifikasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing industri.
Jakarta – Industri facility management di Indonesia memasuki era baru. Tidak lagi hanya dipandang sebagai fungsi pendukung operasional, industri ini memainkan peran yang semakin strategis dalam meningkatkan efisiensi, keberlanjutan dan pengalaman pengguna gedung.
Pergeseran itu tidak lepas dari perkembangan teknologi dan meningkatknya tuntutan dunia usaha terhadap layanan facility management yang lebih terukur. Tren digitalisasi dan adopsi kecerdasan buatan (AI) mengubah lanskap industri facility management.
Marketing Manager Aeon Delight Indonesia, Caesario Mi’radz mengungkapkan, memasuki 2026, perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan pengelolaan fasilitas secara konvensional. Digitalisasi, termasuk pemanfaatan AI hingga penerapan keberlanjutan menjadi tren yang membentuk standar baru di industri ini.
“Salah satu perubahan yang paling menonjol adalah meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap data operasional secara real time,” ujar Caesario, dalam keterangan resmi, dikutip Senin, 20 Juli 2026
“Akses terhadap informasi kondisi fasilitas secara langsung akan membantu perusahaan mengambil keputusan lebih cepat, mengidentifikasi potensi gangguan, sekaligus meningkatkan transparansi dalam pengelolaan aset,” sambungnya.
Baca juga: Bank Perlu Arsitektur Real-Time untuk Perkuat Layanan Digital
Teknologi AI juga digunakan untuk mendukung operasional harian, terutama pada analisis pola operasional, memprediksi potensi gangguan, hingga membantu menentukan prioritas tindakan.
AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan tenaga kerja, tapi memperkuat kemampuan tim dalam mengambil keputusan secara lebih cepat dan akurat.
Tren lain yang semakin marak adala integrasi aspek keberlanjutan dalam operasional fasilitas. Pengelolaan energi, efisiensi penggunaan sumber daya, dan pengurangan limbah menjadi bagian dari strategi untuk mencapai target environmental, social, and governance (ESG).
“Fungsi facility management bisa berkontribusi penting dalam mendorong operasional yang lebih ramah lingkungan,” lanjutnya.
Pengalaman Pengguna Gedung Jadi Perhatian
Di sisi lain, keberhasilan pengelolaan fasilitas tidak lagi hanya diukur dari aspek teknis. Perusahaan kini semakin memperhatikan pengalaman pengguna gedung atau tenant.
Indikatornya antara lain lingkungan kerja yang bersih dan aman, serta pengelola yang responsif terhadap kebutuhan pengguna.
Di luar itu, meski teknologi memainkan peran yang semakin besar, kualitas sumber daya manusia (SDM) dinilai masih menjadi faktor utama. Maka itu, pelatihan dan sertifikasi tenaga facility management dianggap semakin krusial, untuk menjaga standar layanan.
Baca juga: SDM Terampil Jadi Penentu Daya Saing Industri Kreatif, Ini Kata Celios
Caesario menegaskan, perusahaan yang berhasil mengombinasikan teknologi digital, SDM kuat, dan disiplin operasional akan memiliki daya saing lebih tinggi.
“Facility management pun tidak lagi sekadar menjaga operasional gedung tetap berjalan, tapi berkembang menjadi salah satu elemen strategis yang menopang produktivitas dan pertumbuhan bisnis perusahaan,” pungkasnya. (*) Ari Astriawan


