Poin Penting
- PNBP sektor EBT ditargetkan Rp2,6 triliun pada 2026, naik 6 persen dari Rp2,45 triliun
- Pengeboran panas bumi menjadi salah satu pendorong utama kenaikan PNBP EBT
- Investasi panas bumi ditargetkan USD1,1 miliar, dan berpotensi mencapai USD2,2 miliar dari lelang WKP.
Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membidik penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai Rp2,6 triliun pada 2026.
Target tersebut meningkat sekitar 6 persen dibandingkan PNBP EDT tahun sebelumnya senilai Rp2,45 triliun.
“Target untuk tahun 2026 memang naik. Namun, kita semangat untuk menghadirkan Rp2,6 Triliun karena ada banyak pengeboran yang harus dilakukan,” ujar Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM, di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Baca juga: Indonesia Bidik Jadi Raja Geothermal Dunia pada 2030
Diakuinya, saat ini kontribusi PNBP dari sektor EBT terhadap total PNBP Kementerian ESDM memang masih relatif kecil.
Namun, sektor tersebut memiliki potensi penerimaan yang cukup besar seiring melonjaknya aktivitas pengembangan energi terbarukan.
“Kontribusi PNBP ini di kementerian ESDM mungkin sedikit kecil, tetapi kontribusi PNBP sangat lumayan dari energi baru terbarukan karena satu-satunya PNBP yang menghasilkan PNBP senilai Rp2,45 Triliun,” jelasnya.
Baca juga: Purbaya Terima PNBP Rp1,03 Triliun dari Kejagung Hasil Pemulihan Aset Negara
Pemerintah pun kata dia optimistis bisa meningkatkan PNBP sektor EBT menjadi Rp2,6 triliun tahun 2026. Salah satunya didorong oleh aktivitas pengeboran panas bumi yang terus dilakukan untuk mengembangkan potensi geothermal Indonesia.
Tak hanya mengejar peningkatan PNBP, Kementerian ESDM juga membidik investasi lain di sektor panas bumi mencapai USD1,1 miliar atau sekitar Rp18 triliun pada 2026. Target ini sejalan dengan rencana pemerintah melelang sejumlah wilayah kerja panas bumi.
Eniya menjelaskan, tambahan lelang wilayah kerja panas bumi sendiri berpotensi meningkatkan nilai investasi hingga USD2,2 miliar atau sekitar Rp36 triliun, dengan asumsi nilai tukar Rp16.400 per dolar Amerika Serikat.
“kita harapkan dengan adanya lelang yang baru, ada investasi sampai USD2,2 billion, jadi sekitar Rp39 triliun 30 untuk bisa diumumkan hari ini,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


