Jakarta – Epson Indonesia kembali mempersembahkan acara spektakuler sebuah mahakarya memukau video mapping di Candi Prambanan dan Panggung Sendratari Ramayana, Jogjakarta.
Mengutip rilis yang dipublikasi oleh Epson Indonesia, Rabu, 19 Oktober 2016, video Mapping pertama di dunia ini menjadikan Candi dan Panggung sebagai media proyeksinya, sebuah pertunjukan yang memadukan inovasi teknologi projektor Epson terkini, seni pertunjukan dan sejarah yang tidak hanya menghibur tapi sarat akan nilai edukasi.
Pertunjukan video mapping Candi Prambanan dan Panggung Sendratari berlangsung pada hari Senin tanggal 10 Oktober 2016 di Kompleks Candi Prambanan pada pukul 18.30, dimana Epson Indonesia berkolaborasi dengan Sembilan Matahari.
Fasad Candi yang tidak berwarna putih dan tidak memiliki warna yang seragam karena merupakan batu alam adalah merupakan salah satu tantangan terbesar pada pertunjukan video mapping kali ini, karena lazimnya media proyeksi video mapping adalah objek berwarna putih ataupun warna lain yang seragam. (Selanjutnya : Teknologi projektor Epson Indonesia…)
Menjawab tantangan tersebut, Epson Indonesia menghadirkan 14 unit projektor yang secara khusus diperuntukkan bagi proyeksi skala besar yaitu Proyektor 3LCD Laser EB-L1505U dengan tingkat kecerahan tertinggi 12000 ANSI lumens,Proyektor 3LCD EB-Z10000 dan EB-Z11000 dengan tingkat kecerahan tertinggi 11000 ANSI lumens.
Teknologi projektor yang dihadirkan menghasilkan proyeksi gambar yang tajam serta warna cerah yang natural yang menjadi karakteristik teknologi projektor Epson. Hal tersebut mampu menghadirkan perpaduan warna yang indah dan ilusi optik yang akan membuat penonton terbawa ke Candi Prambanan di masa lalu dan dikembalikan lagi pada masa sekarang.
(Baca juga : 1 Dari 5 Perusahaan di Dunia Terapkan Strategi Digital)
Video mapping di Candi Prambanan & Panggung Sendratari Ramayana ini merupakan bentuk dukungan dan kepedulian Epson Indonesia terhadap konservasi warisan budaya Indonesia. Konservasi tersebut tidak hanya melingkupi bangunan fisiknya saja, namun konservasi nilai budaya yang positif melalui transfer pengetahuan.(*)







