Jakarta–PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia mencatat, berdasarkan survei yang dilakukan terhadap bankir-bankir nasional, sebanyak lebih dari 50 persen responden mengharapkan pertumbuhan kredit hingga double digit atau minimal 10 persen di 2017 ini.
Menurut Financial Services Industry Leader PwC Indonesia, David Wake, hasil survei tersebut masih sejalan dengan dengan kondisi pasar. Di mana para regulator pun seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) juga memproyeksikan kredit dapat tumbuh double digit di tahun ini.
Baca juga: OJK Evaluasi Target Kredit Perbankan
“Pertumbuhan kredit sebesar 10-15 persen masih lebih rendah dibanding waktu-waktu sebelumnya, tetapi separuh responden mengharapkan pertumbuhan sebesar 10 persen atau lebih di tahun 2017 ini,” ujar David, di Jakarta, Rabu, 1 Maret 2017. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Dia menjelaskan, bank-bank milik negara menjadi pendorong pertumbuhan kredit terbesar. Sebanyak 75 persen responden menyatakan, pertumbuhan kredit di bank-bank BUMN akan melebihi angka 15 persen. Sementara sebanyak 32 persen dan 19 persen responden masing-masing untuk bank swasta lokal dan bank asing.
Baca juga: Wah NPL Perbankan Naik ke 3,1% di Januari 2017
Terkait dengan risiko kredit, lanjut David, kebanyakan responden melihat kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) akan menurun di 2017. Namun, kekhawatiran para responden terhadap kredit bermasalah masih dianggap sebagai tantangan terbesar. Di mana sebanyak 94 persen responden menyatakan NPL masih menjadi tantangan tertinggi.
“Lebih dari sepertiga responden atau 37 persen ada yang belum bisa memutuskan atau masih merasa bahwa kredit bermasalah masih berada pada tingkat yang sama,” ucapnya. (*)
Editor: Paulus Yoga


