Poin Penting
- MBG telah menjangkau 27 ribu SPPG dengan serapan anggaran Rp60 triliun.
- Program ini menyasar intervensi gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan dan fase usia sekolah.
- Pemerintah berharap MBG mampu menekan stunting dan meningkatkan kualitas SDM dalam jangka panjang.
Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperluas sebagai strategi nasional memperbaiki kualitas gizi masyarakat. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan bahwa Program MBG tersebut telah menjangkau 27 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia dengan serapan anggaran mencapai Rp60 triliun.
Menurut Dadan, distribusi anggaran yang masif itu tidak hanya menyokong penyediaan makanan bergizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah melalui rantai distribusi dari Sabang hingga Merauke.
“Alhamdulillah sekarang sudah menyebar di seluruh Indonesia, dan hari ini sudah menyerap anggaran Rp60 triliun di mana anggaran itu seluruhnya sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip Antara, Senin (20/4/2026).
Dalam pemaparan di hadapan ketua DPRD seluruh Indonesia saat retret di Magelang, Sabtu (18/4), Dadan menegaskan bahwa fondasi Program Makan Bergizi Gratis berangkat dari perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap tingginya pertumbuhan penduduk Indonesia dan risiko ketertinggalan kualitas sumber daya manusia bila intervensi gizi tidak dilakukan secara serius.
Baca juga: Terkuak! Ini 8 Celah Korupsi MBG Temuan KPK
MBG dan Tantangan SDM di Tengah Pertumbuhan Penduduk
Dalam paparannya, Dadan menyebut MBG merupakan respons atas kekhawatiran Presiden terhadap pertumbuhan penduduk yang mencapai enam orang per menit atau sekitar tiga juta jiwa per tahun.
“Program ini sebetulnya berawal dari kegelisahan Presiden, karena Indonesia masih tumbuh enam orang per menit, tiga juta per tahun dan masih akan tumbuh mencapai 324 juta tahun 2045, dan sekarang permasalahannya bukan pertumbuhannya, tetapi dari mana pertumbuhan itu berasal,” katanya.
Masalah kian diperberat dengan rendahnya rata-rata lama sekolah masyarakat Indonesia yang hanya sekitar sembilan tahun. Banyak orang tua berpendidikan rendah tidak mampu menyediakan konsumsi bergizi seimbang bagi anaknya.
“Jadi anak-anak Indonesia itu, dewasa ini banyak lahir dari orang tua yang pendidikannya hanya lulusan SD, sehingga tidak heran kalau 60 persen anak tidak punya akses terhadap makan bergizi seimbang, 60 persen anak itu jarang minum susu bahkan tidak mampu minum susu,” paparnya.
Melalui Program MBG, pemerintah menerapkan intervensi berbasis dua fase krusial. Pertama, 1.000 hari pertama kehidupan sebagai pondasi kecerdasan dan kekebalan tubuh anak. Kedua, fase usia sekolah yang menjadi periode emas pertumbuhan fisik. Pendekatan ini dipandang sebagai kunci untuk memutus siklus kekurangan gizi lintas generasi sekaligus memperbaiki ketahanan gizi nasional.
Baca juga: Heboh Pengadaan Laptop-Alat Makan MBG Tembus Rp4 T, Begini Penjelasan Bos BGN
Harapan Penurunan Stunting dan Peningkatan Kualitas SDM
Dadan menilai keberhasilan MBG akan sangat menentukan kualitas tenaga kerja produktif Indonesia dalam 10 hingga 15 tahun mendatang. Ia menegaskan bahwa program ini disiapkan sebagai investasi jangka panjang untuk menekan stunting dan memperbaiki kecerdasan generasi penerus.
“Kita harapkan dengan program ini stuntingnya bisa dicegah, karena rata-rata IQ Indonesia sekarang 78. Maka, dengan hadirnya program ini, kami berharap nanti 10 hingga 15 tahun ke depan yang lahir hari ini dan akan jadi tenaga kerja produktif, itu sudah tidak stunting, serta tinggi badannya naik karena kita intervensi dari sekarang,” tuturnya.
Pada bagian akhir, pemerintah menegaskan bahwa Program MBG harus memastikan intervensi gizi benar-benar efektif agar investasi senilai Rp60 triliun tersebut menghasilkan perbaikan nyata bagi masa depan anak-anak Indonesia. (*)
Editor: Galih Pratama








