Poin Penting
- GREAT Institute memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,3-5,6 persen sepanjang 2026.
- Investasi dan aktivitas produktif sektor swasta menjadi kunci memperkuat pertumbuhan pada semester II.
- Kepastian kebijakan dan kepercayaan diperlukan untuk menjaga momentum ekonomi Indonesia.
Jakarta – Ekonomi RI berpeluang menembus 5,6 persen pada 2026. GREAT Institute menilai investasi menjadi kunci untuk mencapai proyeksi tersebut.
Lembaga riset itu melihat fondasi ekonomi masih cukup kuat. Namun, sumber pertumbuhan mulai bergeser dari konsumsi menuju investasi dan aktivitas produktif.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, mengatakan proyeksi tersebut memiliki sejumlah prasyarat. Ketahanan permintaan domestik masih terjaga, sementara aktivitas usaha dan investasi mulai menunjukkan penguatan.
“Proyeksi pertumbuhan 5,3-5,6 persen adalah optimisme dengan prasyarat. Kita melihat fondasi pertumbuhan masih cukup kuat, tetapi komposisi mesin pertumbuhannya mulai berubah,” kata Adrian dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (30/8).
Mengacu GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026, ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang relatif kuat. Namun, pencapaian proyeksi tinggi tidak akan terjadi secara otomatis.
Ekonomi Indonesia tumbuh kumulatif 5,45 persen pada semester I-2026. Konsumsi pemerintah menjadi salah satu penopang dengan pertumbuhan 18,62 persen secara tahunan.
Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 5,06 persen pada triwulan II. Kondisi tersebut membuat permintaan domestik tetap menjadi fondasi ekonomi.
“Semester I banyak terbantu oleh konsumsi dan dorongan fiskal. Memasuki Semester II, konsumsi tentu tetap menjadi fondasi pertumbuhan, tetapi tambahan akselerasi semakin perlu datang dari investasi dan aktivitas produktif sektor swasta,” ujarnya.
Baca juga: Manufaktur dan Investasi Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah
Meski demikian, GREAT Institute melihat konsumsi mulai menghadapi tekanan. Rumah tangga semakin selektif dalam mengalokasikan pengeluaran.
Penjualan ritel terkontraksi sepanjang April-Juni. Penjualan kemudian diprakirakan kembali tumbuh tipis 0,9 persen pada Juli.
Indeks Keyakinan Konsumen juga turun dari 123,0 pada April menjadi 116,8 pada Juli. Kondisi itu menunjukkan konsumsi belum jatuh, tetapi kehati-hatian meningkat.
“Karena konsumsi menyumbang porsi terbesar ekonomi, ketahanannya tetap menjadi fondasi proyeksi kami. Tetapi kita juga tidak boleh membaca konsumsi rumah tangga hanya dari satu angka PDB. Ada sinyal kehati-hatian yang meningkat. Karena itu, menjaga pendapatan riil dan pekerjaan menjadi lebih penting daripada sekadar mendorong konsumsi sesaat,” kata Adrian.
Aktivitas Dunia Usaha Mulai Menunjukkan Sinyal Positif
Ketika konsumsi menghadapi tekanan, indikator sektor usaha justru bergerak lebih positif. Kondisi tersebut menjadi sinyal penting bagi prospek ekonomi semester II.
Konsumsi listrik sektor bisnis tumbuh 10,04 persen secara tahunan. Konsumsi listrik industri juga meningkat 6,54 persen.
Penjualan mobil niaga bahkan melonjak 30,12 persen hingga Juni. GREAT menilai perkembangan tersebut menunjukkan aktivitas operasional usaha tetap berkembang.
Investasi menjadi sinyal yang lebih kuat. Realisasi investasi semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun.
Nilai tersebut meningkat 7,2 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Kredit investasi pada Juli juga tumbuh 23,1 persen secara tahunan.
Baca juga: Penjualan Mobil Naik 32,9 Persen, Purbaya Sebut Ekonomi RI Masih Tangguh
Kredit modal kerja turut tumbuh 11,6 persen. Data tersebut memperlihatkan ruang ekspansi sektor produktif masih terbuka.
“Ini yang perlu dijaga pada semester II. Jangan lagi hanya fokus apakah uang tersedia, tetapi apakah pembiayaan benar-benar berubah menjadi belanja modal swasta, ekspansi kapasitas produksi, dan lapangan kerja. Pemerintah sudah memberikan dorongan cukup besar pada semester I. Selanjutnya kebijakan perlu semakin kuat dalam mengurangi hambatan investasi, memberikan kepastian regulasi, mempercepat proyek, dan memastikan likuiditas mengalir ke kegiatan produktif,” kata Adrian.
Pemerintah Diminta Geser Fokus dari Spending More
Adrian menilai pemerintah perlu mengubah perannya dalam mendorong ekonomi. Fokus kebijakan perlu bergeser dari stimulus langsung menuju pengungkit aktivitas produktif.
Belanja negara tetap dibutuhkan untuk menjaga daya beli dan pembangunan. Namun, kualitas pengeluaran semakin penting setelah dorongan fiskal besar diberikan pada semester I.
GREAT menilai pemerintah perlu mengutamakan pendekatan spending better. Artinya, anggaran harus menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar.
Tantangan juga datang dari kondisi global yang belum sepenuhnya stabil. Risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan masih membayangi prospek ekonomi.
Sepanjang semester I, rata-rata Global Economic Policy Uncertainty sekitar 68 persen di atas rata-rata 2024. Sementara Geopolitical Risk Index sekitar 55 persen lebih tinggi.
Risiko tersebut mencakup geopolitik, harga energi, kebijakan moneter global, dan perubahan arsitektur perdagangan. Kondisi itu berpotensi menekan ekonomi Indonesia.
Proyeksi GREAT berada di atas perkiraan IMF dan Bank Dunia yang sekitar 5 persen. Namun, proyeksi tersebut bukan berarti risiko ekonomi telah berlalu.
GREAT melihat peluang tumbuh lebih tinggi tetap terbuka. Syaratnya, stabilitas makro terjaga dan momentum domestik tidak kehilangan tenaga.
“Pertumbuhan semester I menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia lebih resilien daripada kesan yang kadang muncul di ruang publik. Tetapi resiliensi bukan berarti semua persoalan selesai. Tantangan berikutnya adalah mengubah ketahanan itu menjadi produktivitas, investasi yang lebih berkualitas, pekerjaan yang lebih baik, dan peningkatan pendapatan masyarakat,” ujar Adrian.
Baca juga: ISEI Perkuat Sinergi Pemerintah dan Dorong Ekonomi Daerah
Selain investasi dan kebijakan, GREAT menilai kepercayaan menjadi faktor penting. Ketidakpastian kebijakan dapat membuat rumah tangga menahan konsumsi dan perusahaan menunda investasi.
Sebaliknya, kepastian regulasi membuat pelaku ekonomi lebih berani mengambil keputusan. Data terpercaya dan institusi konsisten juga memperkuat keyakinan pasar.
“Optimisme tidak bisa diperintahkan. Ia harus dibangun. Pemerintah perlu menjaga konsistensi kebijakan, menjelaskan perubahan secara terbuka, memastikan data dapat dipercaya, dan merespons kritik dengan perbaikan. Kalau kepercayaan terjaga, rumah tangga berani mengambil keputusan, dunia usaha berani memperbesar investasi, dan pasar akan memberikan ruang yang lebih besar bagi ekonomi untuk tumbuh,” kata Adrian.
Dengan fondasi tersebut, ekonomi RI berpeluang mencapai batas atas proyeksi GREAT Institute. Pertumbuhan ekonomi 5,6 persen membutuhkan investasi produktif, kepastian kebijakan, dan kepercayaan yang terus terjaga. (*)
Editor: Yulian Saputra


