Poin Penting
- Iran menuding sejumlah elemen pemerintah AS berupaya memengaruhi harga energi.
- Abbas Araghchi menyebut dugaan manipulasi pasar tersebut berkaitan dengan kepentingan finansial.
- Ketegangan AS-Israel dan Iran turut meningkatkan risiko terhadap keamanan energi regional.
Jakarta – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membongkar dugaan permainan pejabat Amerika Serikat (AS). Ia menuding sejumlah elemen pemerintah AS berupaya memengaruhi harga energi demi keuntungan pribadi.
Araghchi mengatakan dugaan tersebut berdasarkan data intelijen yang dimiliki negaranya. Tuduhan itu juga diarahkan kepada aktor yang berafiliasi dengan Israel.
“Data intelijen kami menunjukkan adanya upaya besar untuk memanipulasi pasar energi,” kata Araghchi melalui X, dikutip Antara, Minggu (30/8).
Araghchi menuding sejumlah elemen pemerintah AS menggunakan media yang mudah dipengaruhi. Media tersebut disebut dimanfaatkan untuk membentuk persepsi dan memengaruhi harga energi.
Menurut Araghchi, tindakan itu dilakukan demi kepentingan finansial tertentu. Ia juga menilai langkah tersebut berpotensi menyeret Donald Trump ke perang yang merugikan.
“Aktor-aktor yang berafiliasi dengan Israel juga terus mendorong perang,” ujar Araghchi.
Baca juga: Trump Ancam Sanksi Bank China yang Nekat Bermitra dengan Iran
Ia menilai aktor tersebut menggunakan penilaian yang terlalu optimistis terkait perkembangan konflik. Araghchi menyebut konsumen AS mulai merasakan dampak ekonomi dari kebijakan tersebut.
Namun, Araghchi tidak memberikan bukti konkret terkait tuduhan tersebut. Ia juga tidak mengungkap pihak yang diduga terlibat dalam permainan pasar energi.
Konflik Iran Mendorong Ketegangan Pasar Energi
Tuduhan tersebut muncul setelah perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari. AS dan Israel menyerang sejumlah sasaran di wilayah Iran.
Teheran kemudian membalas serangan tersebut dengan aksi militer serupa. Konflik itu berdampak terhadap keamanan energi dan maritim kawasan.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam ketegangan tersebut. Jalur strategis itu biasanya dilalui sebagian besar pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Saat ini, Iran membatasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. AS juga menerapkan blokade laut dan memperketat sanksi ekonomi terhadap Teheran.
Perkembangan tersebut meningkatkan tekanan terhadap aktivitas energi regional. Kondisi itu sekaligus membuat stabilitas jalur perdagangan energi semakin rentan.
Baca juga: Airlangga Monitor Penutupan Selat Hormuz, Harga Minyak Jadi Sorotan
Iran dan AS Sempat Capai Kesepakatan
Teheran dan Washington sebelumnya mencapai nota kesepahaman pada pertengahan Juni. Kesepakatan tersebut ditujukan untuk menghentikan permusuhan antara kedua pihak.
Namun, kesepakatan itu tidak bertahan lama. AS dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang.
Konflik hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan. Meski begitu, saat ini tidak terdapat permusuhan aktif antara kedua pihak.
Washington kemudian meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Langkah tersebut ditujukan untuk menciptakan kesulitan finansial tambahan bagi Iran.
Nota kesepahaman juga mencakup ketentuan terkait Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut turut memuat pemulihan blokade laut AS dan penghapusan sanksi.
Teheran menilai normalisasi penuh navigasi bergantung pada komitmen Washington. Pelaksanaan poin kesepakatan menjadi faktor penting bagi pemulihan lalu lintas.
Tuduhan Araghchi menambah dimensi ekonomi dalam konflik yang belum sepenuhnya berakhir. Sorotan kini tidak hanya tertuju pada operasi militer dan tekanan ekonomi.
Pasar energi juga menjadi bagian penting dalam perselisihan kedua pihak. Menlu Iran menilai dinamika harga energi memiliki kepentingan yang lebih luas. (*)
Editor: Yulian Saputra


