Ekonomi Global Suram, Institusi Keuangan Perlu Miliki Resiliensi yang Kuat

Ekonomi Global Suram, Institusi Keuangan Perlu Miliki Resiliensi yang Kuat

Ekonomi Global Suram, Institusi Keuangan Perlu Miliki Resiliensi yang Kuat
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Muliaman D. Hadad selaku Duta Besar Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein mengungkapkan perlunya institusi keuangan untuk memiliki resiliensi yang kuat dan bukan hanya sekedar bertahan, namun juga berkembang di bawah ancaman resesi pada 2023. Menurutnya, ada tiga jenis resiliensi yang perlu dimiliki institusi keuangan untuk melewati kelamnya perekonomian di 2023, yakni resiliensi institusi, resiliensi keuangan, dan resiliensi reputasi.

“Ini penting bagaimana kita memandang makna resiliensi. Bukan hanya untuk tataran makro atau perekonomian negara, tapi juga termasuk pada level perusahaan atau individual,” jelas Muliaman pada acara ESG Public Discussion virtual bertema “Global and National Outlook for Resilience Amid Recession and Digitalization” yang digelar Impac+ bersama Infobank dan TBS, Senin, 5 Desember 2022.

Ia menerangkan bahwa tiap resiliensi tersebut dapat tercipta bila ditopang oleh kuatnya elemen-elemen yang ada di dalamnya. Ia mencontohkan bagaimana resiliensi institusi hanya dapat terjadi bila ada struktur, sistem, teknologi, tim, dan mindset yang solid pada korporasi.

Di samping itu, resiliensi institusi juga dipengaruhi oleh bisnis dan kepemilikan korporasi yang beragam, karena hal itu akan menciptakan rasa tanggung jawab yang saling melengkapi satu sama lainnya yang dapat memperkuat resiliensi perekonomian suatu institusi.

“Dan tak lupa juga, yang paling penting adalah unsur budaya dari suatu korporasi. Apakah budayanya berjalan seirama dengan resiliensi yang mau diwujudkan oleh setiap institusi,” tambahnya.

Sementara untuk resiliensi keuangan, ia mengutarakan, ada dua unsur yang menopang kuat untuk resiliensi keuangan dapat terwujud, yakni solidnya posisi permodalan dan kuatnya likuiditas. Menurutnya, dua unsur itu bukan hanya mempengaruhi kuat resiliensi institusi keuangan, tapi juga resiliensi institusi atau perusahaan lainnya.

“Dan untuk resiliensi reputasi, penting bagi kita untuk menjaga komitmen yang seirama dalam penerapan makna pertumbuhan bisnis dengan misi perusahaan untuk konsumen dan masyarakat,” ucap Muliaman. (*) Steven Widjaja

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]