Poin Penting
- Rupiah sempat melemah hingga Rp17.300 per dolar AS akibat tekanan global, terutama penguatan dolar yang dipicu ketegangan geopolitik dan konflik berkepanjangan seperti AS–Iran
- Kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasok global mendorong inflasi naik dan pertumbuhan ekonomi dunia turun, membuat kebijakan moneter global, termasuk The Fed, lebih berhati-hati
- Meski tertekan, BI tetap optimistis ekonomi domestik stabil, dengan inflasi terjaga, pertumbuhan di kisaran 4,9–5,7 persen, serta cadangan devisa mencapai USD148,2 miliar.
Bandung – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sempat menembus level Rp17.300. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan global yang bikin hampir semua mata uang, termasuk rupiah, ikut melemah.
Bank Indonesia (BI) menjelaskan, penguatan dolar AS dipicu berbagai faktor eksternal yang cukup kompleks. Salah satunya berasal dari ketegangan geopolitik yang masih memanas di berbagai kawasan dunia.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, mengatakan kondisi global saat ini banyak dipengaruhi konflik, termasuk perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ia menyebut pelaku pasar melihat konflik ini berpotensi berlangsung lebih lama.
“Kondisi ekonomi global banyak diwarnai perang. Pelaku pasar memperkirakan perang lebih lama, dampaknya sudah terlihat pada kenaikan harga minyak akibat gangguan produksi dan distribusi,” kata Juli dalam FGD BI di Bandung, Jumat (24/4).
Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, BI Klaim Cadangan Devisa Aman
Kenaikan harga minyak itu ikut menyeret harga komoditas lain seperti gas dan pangan. Gangguan rantai distribusi global bikin tekanan ke ekonomi dunia makin terasa dan tidak bisa dianggap sepele.
BI mencatat, proyeksi pertumbuhan ekonomi global pun direvisi turun dari 3,1 persen menjadi 3 persen. Di sisi lain, inflasi global justru naik dari 4,1 persen menjadi 4,2 persen, yang bikin ruang pelonggaran kebijakan moneter makin sempit.
Situasi ini juga membuat bank sentral AS, Federal Reserve, diperkirakan lebih hati-hati dalam menurunkan suku bunga. Ditambah lagi, kenaikan defisit fiskal AS mendorong yield obligasi naik dan menarik arus modal global kembali ke aset dolar.
“Daya tarik investasi ke aset keuangan AS meningkat. Apresiasi dolar AS ini terjadi sehingga menguat terhadap hampir semua mata uang dunia,” ujar Juli.
Baca juga: BI Tegaskan Beli Tunai Dolar AS Tak Dibatasi, Ini Aturan Barunya
Dari dalam negeri, BI masih cukup optimistis. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di kisaran 4,9–5,7 persen, dengan inflasi tetap terjaga di sekitar 2,5 persen plus minus 1 persen, didukung stimulus fiskal dan kebijakan moneter.
BI juga mencatat cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 mencapai USD148,2 miliar, meski sedikit turun dibanding bulan sebelumnya.
“Nilai tukar relatif stabil dan cukup terjaga, didukung intervensi BI di pasar valas,” tutup Juli. (*) Ari Nugroho








