Poin Penting
- Ekonom Dradjad Wibowo menilai komunikasi pemerintah dan kinerja awal menjadi kunci keberhasilan PT DSI.
- Resistansi terhadap DSI dinilai wajar karena lembaga ini menyasar praktik under-invoicing dan transfer pricing.
- Governance dan transparansi disebut penting untuk membangun kepercayaan publik dan pasar terhadap DSI.
Jakarta – Ekonom Senior Dradjad Hari Wibowo menilai keberhasilan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi pemerintah dan kinerja awal lembaga tersebut.
Menurutnya, resistansi terhadap kehadiran PT DSI muncul karena lembaga baru itu mencoba merespons persoalan lama seperti praktik under-invoicing dan transfer pricing yang dinilai merugikan negara.
“Memang ini baru diumumkan sehingga menjadi tugas Pak Rosan dan tim Danantara untuk melakukan komunikasi sebaik mungkin dalam menjelaskan gagasan ini kepada publik,” kata Dradjad dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 24 Mei 2026.
Baca juga: Misbakhun Buka Suara soal Pembentukan DSI dan Pengawasan Ekspor Nasional
Ekonom lulusan Universitas Queensland itu menilai munculnya kekhawatiran terhadap DSI merupakan hal yang wajar.
Ia menyebut sebagian pihak yang keberatan kemungkinan berasal dari oknum yang selama ini terlibat dalam praktik under-invoicing dan transfer pricing.
Namun, di sisi lain, ada pula pelaku usaha yang tidak terlibat tetapi khawatir kebijakan baru tersebut dapat mengganggu iklim bisnis.
“Kalau komunikasinya baik dan kinerja awalnya menunjukkan hasil positif, saya rasa kekhawatiran itu pelan-pelan bisa berkurang,” ujar mantan anggota DPR RI periode 2004-2009 tersebut.
Transparansi dan Governance jadi Faktor Utama
Selain komunikasi, Dradjad menilai aspek governance dan transparansi menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap PT DSI.
Baca juga: Aktivis Soroti DSI, Dinilai Berpotensi Picu Monopoli Ekspor SDA
Menurutnya, kedua aspek tersebut harus dikomunikasikan secara aktif dan konsisten kepada seluruh pemangku kepentingan agar tercipta ekosistem bisnis yang kondusif dan meningkatkan kepercayaan pasar.
“Kalau komunikasi lemah, ide yang sebenarnya baik bisa dipersepsikan menyimpang dari tujuan awalnya. Karena itu komunikasi akan memegang peranan yang sangat penting,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


