Poin Penting
- DBS memprediksi IHSG berpeluang pulih pada semester II 2026 meski telah turun 35,49 persen sepanjang paruh pertama tahun ini.
- Valuasi saham yang murah dinilai menjadi katalis utama pemulihan pasar modal Indonesia.
- Sektor perbankan, telekomunikasi, dan pertambangan dipandang memiliki fundamental yang kuat untuk menopang kenaikan IHSG.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan sepanjang semester I 2026. Hingga penutupan perdagangan pada Selasa (30/6), IHSG melemah 35,49 persen ke level 5.643,19.
Meski demikian, ekonom Bank DBS memproyeksikan pasar saham Indonesia akan berbalik menguat pada semester II 2026 seiring membaiknya sejumlah faktor fundamental.
Senior Investment Strategist Bank DBS, Joanne Goh, mengatakan transformasi pasar modal Indonesia yang terus berjalan menjadi salah satu faktor yang dapat menopang optimisme investor.
Menurutnya, hal itu juga berpotensi membuat Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan status Indonesia dalam kategori emerging market.
“Jadi untuk Indonesia, kami tetap melihat secara positif karena kami yakin keputusan MSCI akan cukup positif,” ungkap Joanne dalam webinar DBS Chief Investment Office (CIO) Insights, Selasa, 30 Juni 2026.
Baca juga: Akhir Juni, IHSG Masih Ditutup Merah pada Level 5.643
Namun begitu, Joanne menilai pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi keputusan MSCI. Kenaikan harga minyak akibat konflik Amerika Serikat dan Iran serta tekanan inflasi turut membebani pasar saham domestik.
Di tengah kondisi tersebut, ia melihat valuasi saham yang saat ini relatif murah justru menjadi peluang bagi investor.
“Jadi di paruh kedua, kami pikir valuasi murah atau valuasi rendah di Indonesia seharusnya cukup mendukung pemulihan pasar,” kata Joanne.
Sektor Perbankan hingga Tambang Dinilai Menarik
Joanne menilai sejumlah saham perbankan besar yang mengalami penurunan harga berpotensi kembali menarik minat investor.
Kondisi tersebut didukung oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi sektor perbankan.
Baca juga: IHSG Melemah, Saham Bank Ini Dinilai Masih Menarik
Selain perbankan, sektor telekomunikasi dan pertambangan juga dinilai memiliki fundamental yang kuat sehingga berpeluang menjadi penopang penguatan IHSG pada semester II 2026
“Jadi untuk Indonesia, kami pikir pemilihan sektor dapat cukup luas. Oleh karena itu, kami terus melihat kondisi di Indonesia secara positif,” tutupnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


