Poin Penting
- Manufaktur menghadapi tantangan konektivitas dan integrasi IT/OT yang memicu risiko downtime
- Multipolar Technology menawarkan solusi AI Huawei untuk meningkatkan efisiensi dan stabilitas operasional
- iMaster NCE-Campus dan OceanStor Dorado membantu otomatisasi, integrasi real-time, dan memperkuat keandalan produksi.
Jakarta – Industri manufaktur dituntut menjaga produktivitas tinggi dengan operasional yang efisien. Tapi, mewujudkan itu bukan perkara mudah. Sejumlah tantangan harus dihadapi, mulai dari konektivitas yang belum optimal di area produksi hingga terbatasnya integrasi jaringan information technology (IT) dan operational technology (OT).
Hambatan dalam proses troubleshooting serta stabilitas operasional yang belum terintegrasi secara menyeluruh juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini berpotensi meningkatkan downtime yang dapat menghambat kinerja produksi.
Untuk mengatasi tantangan itu, PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) mendorong perusahaan manufaktur mengadopsi dua solusi berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI), yakni Huawei iMaster NCE-Campus dan Huawei OceanStor Dorado.
Dua solusi besutan Huawei itu diklaim mampu membantu perusahaan manufaktur, memangkas downtime sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Baca juga: AI, Antara Keandalan Teknologi, dan Kemunduran Kognitif
Dalam seminar bertema Smart Factory in Action: Stop Downtime, Start Performance yang diselenggarakan Multipolar Technology dan Huawei di Bekasi, beberapa waktu lalu, Division Head Network Presales Multipolar Technology, Budianto Chandra mengungkapkan bahwa kedua solusi itu dirancang untuk membantu perusahaan manufaktur membangun operasional yang lebih andal, cerdas, aman, fleksibel, dan efisien.
“Dalam lingkungan manufaktur modern, jaringan pabrik dituntut harus mampu menghubungkan area produksi, gudang, kantor, kamera pengawas, monitoring dashboard, hingga data center secara terpadu,” jelas Budianto dalam keterangan resmi, dikutip Senin, 18 Mei 2026.
Ia melanjutkan, sistem produksi juga harus mendukung mesin industri, robotic arm, autonomous guided vehicle, warehouse management system, dan sensor IoT secara real-time.
“Huawei iMaster NCE-Campus hadir untuk menyederhanakan pengelolaan konektivitas jaringan yang kompleks semacam itu,” lanjutnya.
Dengan unified IT/OT management, iMaster NCE-Campus dapat mengelola ribuan perangkat jaringan dan puluhan ribu terminal secara bersamaan. Kemampuan otomatisasi jaringan berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu keunggulan utamanya.
Selain itu, solusi ini mendukung plug-and-play provisioning yang memungkinkan waktu onboard perangkat jaringan baru menjadi lebih singkat. Ditambah lagi, access point Wi-Fi 7 yang dimiliki diklaim mampu menghadirkan konektivitas stabil tanpa blindspot di area industri.
Sementara itu, platform iMaster NCE-CampusInsight yang terintegrasi dalam solusi iMaster NCE-Campus dilengkapi AI-based root cause analysis dan network digital map. Fitur tersebut memungkinkan perusahaan manufaktur memantau pengalaman pengguna, performa aplikasi, dan status jaringan dalam satu dashboard terpadu.
Platform ini juga mendukung lebih dari 27 protokol OT seperti Modbus, Profinet, dan Onvif yang mampu mendeteksi sekaligus memblokir berbagai ancaman siber. Dengan demikian, gangguan jaringan dapat diidentifikasi lebih cepat sehingga downtime proses produksi bisa dicegah.
Di sisi lain, Huawei OceanStor Dorado hadir untuk menopang akses data yang dibutuhkan iMaster NCE-Campus agar berjalan cepat atau real-time. Solusi ini menawarkan platform storage untuk mendukung mission-critical workloads dengan performa tinggi, keamanan terintegrasi, dan keandalan kelas enterprise.
Baca juga: Menkomdigi: Teknologi AI Bisa Tingkatkan PDB RI 3,67 Persen
“Dapat dipahami bahwa storage dalam pengelolaan jaringan IT/OT perusahaan manufaktur bukan lagi sekadar pendukung, melainkan sudah menjadi strategic enabler,” tambah Budianto.
Teknologi FlashLink Algorithms yang dimiliki OceanStor Dorado diklaim mampu meningkatkan efisiensi cache hingga 50 persen, mempercepat rekonstruksi data hingga 20 kali, serta meminimalkan latensi pada sistem penyimpanan.
Selain itu, fitur RAID-TP memungkinkan sistem tetap berjalan tanpa mengganggu proses produksi meski terjadi kegagalan pada tiga disk secara bersamaan. Solusi ini juga memiliki kemampuan menangani tujuh controller fail dari delapan controller, sekaligus mendukung kebutuhan disaster recovery dan business continuity perusahaan manufaktur. (*) Ari Astriawan


