Poin Penting
- BSSN menemukan 5,2 miliar anomali trafik internet pada 2025.
- Sebanyak 93,78 persen anomali terkait potensi malware yang dapat berkembang menjadi ransomware.
- BSSN mulai menyiapkan post quantum cryptography menghadapi era komputasi kuantum.
Jakarta – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) membeberkan bahwa Indonesia tengah menghadapi ancaman serangan siber yang semakin kompleks. Berdasarkan hasil pemantauan trafik internet nasional sepanjang 2025, ditemukan sekitar 5,2 miliar anomali trafik yang berpotensi menjadi serangan siber.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN Slamet Aji Pamungkas mengatakan, dominasi anomali tersebut berkaitan dengan potensi malware yang dapat berkembang menjadi serangan ransomware.
“Ada sekitar 5,2 miliar anomali trafik ya, di mana 93,78 persen adalah potensi malware, biasanya akan menjadi ransomware,” ujar Slamet dalam acara Cruise Connect 2026 yang digelar Infobank Media Group berkolaborasi dengan XOEO, di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.
Baca juga: OJK Terbitkan Panduan AI Perbankan, Antisipasi Lonjakan Serangan Siber
Menurutnya, angka tersebut diperoleh meski kemampuan pemantauan trafik internet nasional oleh BSSN masih terbatas. Ia menyebut kapasitas monitoring BSSN belum mencapai 10 persen dari keseluruhan trafik internet di Tanah Air.
“Jadi, kalau ada 10 pintu yang harus kami awasi, kami baru punya satu sisi pintu. Insyaallah sampai dengan 2028 atau 2029 bisa mencapai 30 sampai 50 persen,” bebernya.
Ada 185 Potensi Serangan Siber per Detik
Slamet menjelaskan, anomali trafik memang belum tentu merupakan serangan siber. Namun, kondisi tersebut memiliki potensi berkembang menjadi ancaman serius. Jika dirata-ratakan, terdapat sekitar 185 potensi serangan siber setiap detik di Indonesia.
Ia menilai sektor perbankan menjadi salah satu sektor yang paling matang dalam hal keamanan digital, tetapi juga menjadi target utama serangan hacker.
BSSN, lanjutnya, aktif mengirimkan notifikasi kepada institusi yang terindikasi mengalami potensi serangan siber, termasuk sektor perbankan. Namun, tingkat respons dari penerima notifikasi masih rendah.
Baca juga: AAJI Dorong Industri Perkuat Ketahanan Siber-Risiko Geopolitik
Pada 2020 misalnya, dari 1.078 notifikasi yang dikirimkan BSSN, hanya sekitar 26 institusi yang memberikan respons.
“Padahal semakin cepat respons diberikan kepada kami, semakin besar kemungkinan kemampuan kita untuk memitigasi dan mencegah terjadinya insiden siber,” jelasnya.
Risiko Quantum Cryptography
BSSN juga menyoroti risiko baru dari perkembangan quantum computing dan quantum cryptography yang diperkirakan akan mengubah lanskap keamanan siber global.
Ia menjelaskan, kehadiran Harvest Now Decrypt Later (HNDL), yakni praktik pencurian data terenkripsi oleh pelaku kejahatan siber untuk didekripsi pada masa depan ketika teknologi komputer kuantum sudah lebih maju.
“Data tersebut akan dibocorkan, ditampilkan di dark web sebagian biasanya sebagai contoh, dengan harapan bisa mengancam kita untuk membayar tebusan kepada penjahat siber tersebut,” ungkapnya.
Baca juga: Tiga Jurus BSSN Tangkal Kasus Scam di Indonesia
Sebagai langkah mitigasi, BSSN mengembangkan program Sandi Data untuk mengenkripsi basis data sebelum dicuri pelaku kejahatan siber. Sistem tersebut dikembangkan dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mencapai 95 persen, termasuk algoritma enkripsi yang dibuat sendiri oleh BSSN.
Namun, diakuinya bahwa perkembangan teknologi komputer kuantum tetap menjadi tantangan besar. Karena itu, BSSN mulai menyiapkan pengembangan Post Quantum Cryptography sebagai upaya antisipasi menghadapi era komputasi kuantum.
“Tapi mau tidak mau, siap atau tidak siap, kita akhirnya akan ke situ. Karena diperkirakan 2030 quantum cryptography itu sudah akan terjadi dan biasanya perkembangan teknologi akan lebih cepat dari perkiraan,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


