Poin Penting
- DBS melihat IHSG berpeluang kembali ke level 8.000.
- Kenaikan laba emiten diperkirakan menjadi katalis penguatan indeks.
- Risiko penurunan status MSCI dinilai sudah banyak diantisipasi pasar.
Jakarta – Sepanjang paruh pertama 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dari berbagai faktor domestik maupun global.
Menjelang penutupan perdagangan Rabu, 15 Juli 2026, IHSG berada di level 6.052,97 atau turun 30,81 persen sejak awal tahun.
Meski demikian, PT Bank DBS Indonesia menilai masih terdapat peluang bagi IHSG untuk kembali ke kisaran 8.000, sebagaimana sempat terjadi pada akhir 2025 hingga awal 2026.
Head of Investment & Insurance Product DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan proyeksi tersebut disusun oleh Chief Investment Officer (CIO) DBS dengan mempertimbangkan berbagai dinamika yang memengaruhi pasar modal Indonesia.
“Indeks 8.000 di sini sudah mencatat atau mengakomodir beberapa faktor. Salah satunya adalah mengenai MSCI, dan juga mengakomodir mengenai (nilai tukar) Rupiah USD yang sekarang sekitar Rp18.000,” terang Djoko di Jakarta, 15 Juli 2026.
Baca juga: Ini Daftar 37 Saham Baru yang Masuk Kategori HSC
Dalam proyeksi tersebut, standar deviasi yang digunakan kembali ke 1 kali. DBS menilai potensi rebound IHSG ke level 8.000 ditopang oleh ekspektasi peningkatan laba bersih emiten yang tercatat di bursa.
Periode Juni–Juli umumnya menjadi momentum emiten merilis laporan keuangan tahunan. Menurut Djoko, pertumbuhan kinerja perusahaan yang positif dapat menjadi katalis penguatan indeks.
“Yang diharapkan dengan perkembangan yang sudah terjadi selama 6 bulan terakhir, maka earning (laba bersih perusahaan) ini akan membantu mendongkrak indeks untuk kembali ke 8.000,” ujarnya.
Selain faktor fundamental emiten, DBS juga optimistis IHSG akan tetap mempertahankan status emerging market dari Morgan Stanley Capital International.
Optimisme tersebut didukung oleh langkah reformasi pasar modal yang dilakukan regulator, serta keputusan S&P Global yang mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB atau layak investasi.
Baca juga: IHSG Masih Volatil, Pengamat Ungkap Sektor Saham yang Masih Menarik Dicermati
Meski demikian, Djoko tidak menutup kemungkinan adanya risiko penurunan status menjadi frontier market. Namun, menurutnya, pasar telah mengantisipasi potensi tersebut.
“Jadi sebenarnya kami melihat bahwa market itu sudah priced in terhadap kemungkinan terjadinya (turun level). Seandainya sampai itu terjadi, market sudah banyak priced in. Jadi ketekanan ke bawahnya seharusnya sudah tidak lebih besar,” kata Djoko.
Dengan demikian, DBS memandang pergerakan IHSG ke depan akan lebih ditentukan oleh perkembangan ekonomi domestik, serta dinamika ekonomi dan geopolitik global. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


