Poin Penting
- DBS Indonesia menyarankan investor mendiversifikasi portofolio tidak hanya berdasarkan instrumen, tetapi juga wilayah geografis aset
- CIO DBS merekomendasikan alokasi 50 persen saham, 35 persen obligasi, dan sisanya pada investasi alternatif seperti emas.
- Saham teknologi di AS, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang dinilai prospektif, sementara emas tetap menarik sebagai aset safe haven jangka panjang.
Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, investor disarankan menerapkan strategi diversifikasi portofolio agar nilai aset tetap terjaga sekaligus berpeluang menghasilkan imbal hasil optimal.
Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia (DBS Indonesia), Djoko Soelistyo, mengatakan diversifikasi tidak cukup hanya berdasarkan jenis instrumen investasi, tetapi juga perlu mempertimbangkan aspek geografis atau negara tempat aset tersebut berada.
“CIO (Chief Investment Office) kami tidak hanya mengedepankan mengenai masalah, ‘harus beli saham’ atau ‘harus beli obligasi’, tapi juga diversifikasi secara geografis. Karena, tidak semua negara diuntungkan dalam kondisi seperti sekarang,” ujar Djoko dalam DBS Insight Forum di Jakarta, 15 Juli 2026.
Secara umum, CIO DBS merekomendasikan komposisi portofolio sekitar 50 persen pada saham, 35 persen pada fixed income seperti obligasi, dan sisanya pada instrumen alternatif seperti emas.
Baca juga: Ini Daftar 37 Saham Baru yang Masuk Kategori HSC
Fokus pada Sektor yang Diuntungkan Kebijakan
Untuk instrumen saham, Djoko menilai investor perlu mencermati perusahaan yang berpotensi diuntungkan oleh kebijakan pemerintah di masing-masing negara.
Di Amerika Serikat, misalnya, sektor teknologi dinilai masih menarik, terutama perusahaan yang terkait dengan pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
“Karena Amerika dipandang mempunyai kemapanan, terutama dari sisi AI technology, yang basically sekarang benar-benar menjadi salah satu yang terdepan,” ungkap Djoko.
Selain AS, pasar saham di Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang juga dinilai menarik untuk sektor teknologi.
Obligasi Indonesia dan Prospek Emas
Di sisi fixed income, Djoko menilai Indonesia masih menawarkan imbal hasil yang kompetitif. Yield obligasi domestik disebut dapat mencapai lebih dari 7 persen, sehingga tetap menarik bagi investor yang mencari pendapatan tetap.
Sementara itu, emas dinilai masih relevan sebagai instrumen investasi jangka panjang. Dalam jangka pendek, harga emas sempat tertekan akibat konflik Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi.
Baca juga: Pemerintah Kaji Insentif Pajak untuk ETF Emas Non-Delivery
“(Tapi), untuk jangka panjang, diharapkan ketika perang sudah mulai lebih ada titik terang, sudah mulai reda, maka fungsi emas sebagai safe haven product, itu akan kembali muncul,” lanjut Djoko.
Ia menambahkan, potensi pelemahan mata uang di berbagai negara akibat meningkatnya jumlah uang beredar juga dapat menjadi faktor pendukung kenaikan harga emas. Selain itu, ketersediaan emas yang semakin terbatas diyakini akan menopang kenaikan harga komoditas tersebut dalam jangka panjang. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


