Poin Penting
- Lintasarta menilai digitalisasi perbankan harus dibarengi sistem keamanan siber dan fraud detection yang kuat.
- Faktor kedisiplinan pengguna masih menjadi penyebab utama tingginya kasus serangan siber.
- Lintasarta memperkuat transformasi AI melalui platform Intelligent Core yang mengintegrasikan layanan digital end-to-end.
Jakarta – Transformasi digital bagi sektor perbankan tak hanya cukup modal dalam layanan digital. Bank juga dituntut memiliki sistem keamanan (cyber security) dan fraud security system yang canggih dalam menghalau serangan siber.
President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, menuturkan digitalisasi perbankan perlu dibarengi dengan investasi pada sistem keamanan yang kokoh agar risiko serangan siber dan kebocoran data nasabah bisa diminimalkan.
“Kalau ingin maju masuk digitalisasi, kalau ingin terlibat dalam hal perbankan yang modern harus punya cyber security yang kuat, fraud detection system yang andal,” ujar Armand dalam Lintasarta Media Gathering, di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.
Baca juga: Modus Fraud Berbasis AI Makin Marak, OJK Dorong Sinergi Ketahanan Siber Industri Keuangan
Menurutnya, keamanan siber kini menjadi fondasi utama dalam operasional perbankan modern. Tanpa perlindungan memadai, layanan digital berisiko menjadi korban serangan hacker. Kondisi ini jelas akan merugikan nasabah.
Armand mengakui, investasi keamanan siber memang tak murah dan kerap kali sulit dijelaskan manfaat bisnisnya secara langsung kepada pemegang saham maupun pemilik bank daerah (BPD).
“Kbutuhan cyber security memang ada biaya besar tapi tetapi manfaatnya baru terasa ketika terjadi masalah. Sering muncul pertanyaan, revenue-nya mana? Padahal keamanan adalah investasi untuk mencegah kerugian yang jauh lebih besar,” bebernya.
Serangan Siber Terus Meningkat
Sementara itu, Chief Cloud Officer Lintasarta, Gidion Suranta Barus mengungkapkan, tingginya kasus serangan siber di sektor keuangan tak melulu disebabkan oleh kelemahan teknologi, melainkan karena ada faktor manusia dan kedisiplinan pengguna.
Menurutnya, saat ini banyak insiden keamanan bermula dari kebiasaan sederhana yang kerap diabaikan, misalnya saja mengganti kata sandi secara berkala atau menggunakan perangkat lunak yang sudah tidak mendapatkan pembaruan keamanan.
“Begitu kita nggak disiplin, AI dengan mudahnya bisa gampang jebol,” tegasnya.
Selain itu, penggunaan sistem operasi serta server yang telah usang juga menjadi celah keamanan yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Baca juga: AFTECH dan Jalin Perkuat Kolaborasi Ketahanan Siber lewat Forum ‘Protection in Action’
Menurutnya, banyak organisasi masih menggunakan infrastruktur out of date (lama) yang tidak lagi memperoleh dukungan keamanan dari pengembang.
“Apalagi Windows-nya masih pakai Windows XP, Windows apa lagi tuh kan atau pakai Windows e- variasi yang 2012, 2018 saja sudah mau expired gitu. Itu kebayang di end user. Jadi sebenarnya gampang sekali untuk mencari kredensial,” bebernya.


