Poin Penting
- AFTECH dan Jalin menggelar forum untuk memperkuat ketahanan siber dan menghadapi ancaman fraud berbasis AI di sektor pembayaran digital.
- BSSN mencatat 5,2 miliar trafik internet pada 2025 dengan 94 persen di antaranya berpotensi menjadi serangan malware dan ransomware.
- Industri fintech menilai kolaborasi lintas sektor dan penguatan Fraud Detection System penting untuk menjaga keamanan transaksi dan kepercayaan masyarakat.
Jakarta – Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bekerja sama dengan PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) menggelar forum diskusi bertajuk “Protection in Action: Strengthening Fraud Resilience Across Ecosystem”.
Forum tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi ketahanan siber di tengah meningkatnya ancaman fraud berbasis artificial intelligence (AI).
AFTECH dan Jalin menilai keamanan ekosistem pembayaran digital membutuhkan kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan mitra strategis. Karena itu, forum ini mempertemukan para pemangku kepentingan untuk memperkuat ketahanan dan keamanan sistem pembayaran digital nasional.
Baca juga: Kasus Order Fiktif Damkar, AFTECH Klarifikasi Manajemen Indosaku
Wakil Ketua Umum II AFTECH, Budi Gandasoebrata menegaskan keamanan, ketahanan infrastruktur, dan manajemen risiko menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem pembayaran digital yang sehat dan berkelanjutan.
“Industri tidak lagi hanya dituntut untuk tumbuh cepat tetapi juga harus tumbuh resilient. Dan dalam konteks tersebut, Fraud Detection System atau FDS saat ini bukan lagi sekadar fitur pendukung, melainkan infrastruktur krusial bagi industri keuangan digital,” ungkapnya dalam forum tersebut, dikutip Selasa, 26 Mei 2026.
Ancaman Siber dan Transaksi Digital Terus Meningkat
Pentingnya FDS tecermin dari data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat terdapat 5,2 miliar trafik internet sepanjang 2025 yang berpotensi menjadi jalur serangan siber.
Sebanyak 94 persen di antaranya berupa malware yang berisiko berkembang menjadi ransomware.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi digital turut mendorong lonjakan transaksi pembayaran digital. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), transaksi pembayaran digital mencapai 14,82 miliar transaksi pada kuartal I-2026 atau tumbuh 37,69 persen secara tahunan.
Baca juga: Kontribusi BUMN Kerek Laju Pertumbuhan Ekonomi RI
Kepala Direktorat Pembelaan Hukum Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tri Herdianto, menilai ancaman siber semakin kompleks seiring meningkatnya penggunaan alat pembayaran elektronik. Sehingga, ancaman siber terbilang makin kompleks, baik dari sisi metode maupun skala.
“Kesiapan industri dalam memperkuat keamanan transaksi digital saat ini menjadi sangat krusial. Kita harus memahami bahwa fraud resilience bukan lagi sekadar isu teknis atau teknologi, melainkan pilar utama dalam menjaga trust dari masyarakat,” imbuhnya.
Dorong Penguatan Infrastruktur Bersama
Direktur Utama Jalin, Ario Tejo Bayu Aji, mengatakan ancaman terhadap platform pembayaran digital membutuhkan pendekatan keamanan yang bersifat kolektif melalui penguatan shared services infrastructure di bidang fraud management.
Menurutnya, model tersebut memungkinkan pelaku industri mengoptimalkan investasi dan meningkatkan efisiensi operasional sehingga kualitas keamanan siber dapat lebih terjaga.
“Model ini juga memberikan ruang bagi pelaku industri untuk tetap fokus pada pengembangan inti bisnis mereka, sementara fondasi keamanannya dikelola secara lebih profesional dan terkoordinasi,” tegas Ario.
Baca juga: Harapan AFTECH untuk Formasi Baru Anggota Dewan Komisioner OJK
AFTECH dan Jalin menilai sinergi lintas sektor yang didukung sistem yang terus berkembang dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang aman, inklusif, dan tangguh. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


